17 Januari 2009

Empat Tahun Ngene-ngene Ae

All hands,
Harus jujur diakui, operasi gabungan belum menjadi suatu paradigma dalam TNI. Memang betul bahwa sudah ada Bujuk Opsgab, namun dalam kenyataan di lapangan paradigma opsgab belum menjadi suatu kenyataan. Mau lihat contohnya? Gampang, lihat saja operasi yang digelar di Laut Sulawesi (Ambalat) untuk menghadapi klaim negeri tukang klaim.
Dalam operasi di sana, AL bergerak sendiri, AU bergerak sendiri, AD bergerak sendiri. Betul bahwa Operasi Balat Sakti yang digelar oleh AL komando dan kendalinya berada di Mabes TNI. Namun operasi lain yang digelar oleh matra lain, menurut pengetahuan saya, tidak semuanya berada di bawah kendali Mabes TNI. Kalaupun benar di bawah kendali Mabes TNI, kenapa tidak disatukan saja operasi ketiga matra tersebut di Laut Sulawesi?
Untuk menyatukannya gampang kok. Tinggal buat surat keputusan Panglima TNI yang membentuk Joint Task Force alias Gugus Tugas Gabungan. Katakanlah namanya JTF Ambalat. JTF dipimpin oleh seorang perwira tinggi yang sesuai dengan karakteristik daerah operasi. Karena Blok Ambalat adalah laut, yah sudah seharusnya CJTF-nya adalah perwira tinggi AL.
Operasi TNI di Laut Sulawesi sudah hampir berlangsung empat tahun, sejak Februari 2005. Tetapi tidak ada kemajuan berarti dalam pola operasi di sana. Setiap matra masih dibiarkan berjalan sendiri-sendiri, meskipun kodalnya di bawah Mabes TNI. Apakah karena daerah operasinya adalah domain maritim sehingga tidak dibentuk JTF? Sebab nanti ada pihak-pihak yang tidak rela di bawah komando perwira AL dalam suatu opsgab.

4 komentar:

Anonim mengatakan...

Sependapat Mas..BTW apakah hal ini gk pewrnah diusulkan/dirapatkan/di evaluasi di Cilangkap/Mabes TNI?
Atau gak ada yang berani bicara dirapat evaluasi atw rapat apakah namanya di Cilangkap?
Biasanya orang OPS kan pasti yang pilihan/pinter2 kalo sekolah ...Masak sih bisa begini terus2an...?

Allhands mengatakan...

Arus bawah sama arus atas berbeda. Arus atas di Mabes TNI kan sebagian besar masih paradigma lama, apalagi di sana didominasi AD. Sulit berdebat sama AD, khususnya yang korpsnya senapan silang. Sulit untuk mewujudkan JTF Ambalat saat ini di Mabes TNI. Selain paradigmanya masih paradigma lama, ego matra tertentunya juga belum bisa hilang. Boleh saja AL berpikiran bahwa dalam perang laut AL tak bisa menang tanpa didukung AU, tapi AD nggak berpikiran demikian. Intinya, AD tak memandang penting opsgab kok. Dan Mabes TNI tak melihat urgensi adanya JTF Ambalat. Sulit!!! Pola pikir ketiga matra belum sama. Untuk AL dan AU, nggak susah untuk menemukan titik temu pemikiran. Tapi dengan AD, khususnya senapan silang, susah.............!!!

Anonim mengatakan...

Di mana-mana org2 dgn paradigma lama masih menguasai institusi negara.Baik sipil maupun militer.Kita lalukan yg terbaik saja dululah yg kita mampu perbuat.Kedongkolan jgn membuat kita berhenti berkontribusi.Kalau perubahan belum terjadi sekarang, mungkin nanti buah pikiran kita yg sekarang ini mandeg akan terealisasi oleh generasi di bawah kita.Perjuangan memang butuh kesabaran.Saya dukung semangat bapak.Kami sipil bangga masih ada militer yang peduli kepentingan bangsa.Kita sama2 berjuang memperbaiki lini masing2, semoga sipil dephan dan militer dengan paradigma baru bisa bersinergi memperkuat pertahanan negara.Viva Indonesia.

Ronggo agung mengatakan...

spendapat dengan bang damnthetpo,

Operasi balat sakti tidak menghasilkan dampat yang signifikan pada klaim wilayah ambalat,, operasi sudah digelar 4 tahun perundingan batas wilaya pun juga sering dilakukan baik Indonesia maupun Malaysia..namun juga diplomasi kita tidak bisa mengikutinya takutnya lama - lama seperti sipadan and ligitan. Akhirnya yang terlihat hanya penggunaan anggaran yang keluar udah cukup banyak dari mabes TNI untuk membiayai TNI.