10 Februari 2009

Menakar Daya Rusak Rudal Permukaan Ke Permukaan

All hands,
Proliferasi rudal permukaan ke permukaan saat ini nyaris tidak bisa dibendung, meskipun negara-negara Barat berupaya membatasinya. Bagi negara-negara berkembang, mereka memiliki sejumlah alternatif untuk mempersenjatai kapal perang Angkatan Laut dengan rudal anti kapal permukaan selain dari sumber di Barat. Rusia dan Cina merupakan dua sumber alternatif, di samping ada negara yang mengembangkan sendiri atau bekerja dengan dua negara yang disebut sebelumnya, misalnya Iran.
Apabila kita mempelajari sejumlah kapal perang Angkatan Laut beberapa negara yang pernah dihajar rudal permukaan ke permukaan, baik dalam latihan maupun operasi sesungguhnya, sungguh sulit menemukan kapal itu langsung tenggelam beberapa saat setelah terkena rudal. Kapal atas air yang tenggelam beberapa saat setelah dihantam senjata lawan justru bukan karena hantaman rudal, tetapi torpedo. Biasanya torpedo di-set untuk meledak tepat di bawah propeler kapal atas air, sehingga menimbulkan daya ledak yang merusak struktur kapal secara keseluruhan yang dimulai dari bangunan kapal di bawah garis air.
Sedangkan rudal permukaan ke permukaan lebih sering menghantam bangunan kapal di atas garis air, sehingga kapal tidak langsung tenggelam. Hal itu juga tidak lepas dari kemajuan dalam desain kapal atas air, yang mana para perancang kapal telah melokalisasi bagian-bagian kapal yang kemungkinan besar terkena hantaman rudal. Sehingga dalam banyak kasus, kerusakan yang ditimbulkan oleh serangan rudal dapat dilokalisasi dan kapal masih mampu untuk mengambang.
Semakin besar ukuran suatu kapal perang, semakin kecil pula kapal itu dapat ditenggelamkan atau dihancurkan oleh rudal. Di samping itu, kapal perang tersebut dapat melakukan duplikasi pada sistem peralatannya yang vital dan mendistribusikannya ke bagian lain apabila salah satu bangunan kapal terkena sengatan rudal. Contoh soal kasus ini cukup banyak dalam 30 tahun belakangan.
Berangkat dari situ, harus diperhitungkan dengan matang rudal permukaan ke permukaan yang akan digunakan dengan sasarannya. Rudal seperti C-802 atau Exocet MM-40 mungkin masih ampuh untuk kapal sampai kelas fregat. Tetapi apakah rudal itu ampuh pula untuk kelas di atas fregat, seperti destroyer atau cruiser?
Untuk menjawab pertanyaan ini perlu dilakukan sejumlah kajian dan eksperimen secara mendalam. Dan mungkin perlu dibandingkan probabilitas kinerja daya rusak rudal itu terhadap sasaran kapal atas air sekelas destroyer dengan probabilitas kinerja daya rusak HWT terhadap sasaran yang sama. Selain dengan HWT, dapat pula dibandingkan dengan kinerja daya rusak Yakhont yang dirancang untuk menghadapi kapal perang berukuran lebih besar daripada fregat.

1 komentar:

teguhelektro43 mengatakan...

Secara teori untuk mengukur kemampuan rudal "menghajar" sasarannya mari pertama kita lihat dari sisi rudal, utamanya berat peledak yg dia bawa dan desain arah ledaknya. Dari beratnya akan bisa diperhitungkan force ledaknya (area). Dari desainnya bisa ditentukan kearah mana peledak itu ditujukan, ke segala arah atau fokus kedepan. Dengan begitu bisa diperhitungkan area rusak (damage area) yg dapat ditimbulkan. Baru setelah itu disimulasikan perkenaan di suatu kapal. Haluan, tengah atau buritan. Arah datang rudal apakah dari bawah tengah, menyamping atau dari atas (pop up). Beberapa tahun lalu tema skripsi ini pernah saya sarankan untuk siswa STTAL angkatan 25. (saya sendiri angkatan 24). Bukan hal yg sulit tapi tidak bisa datang tiba-tiba dan tanpa perhitungan matematis yang andal. trims.