12 November 2009

Kerjasama Logistik Angkatan Laut

All hands,
Kekuatan laut Indonesia sejak lama telah menjalin kerjasama dengan Angkatan Laut lain, khususnya di kawasan Asia Tenggara. Kerjasama itu secara garis besar dapat dikelompokkan ke dalam bentuk kerjasama operasi dan latihan dan kerjasama pendidikan. Namun demikian, masih ada bagian lain dalam kerjasama Angkatan Laut yang selama ini belum digarap, seperti kerjasama logistik.
Kerjasama logistik Angkatan Laut bentuknya luas, seperti kerjasama pemeliharaan kapal perang, kerjasama dukungan logistik bagi kapal perang, pertukaran munisi dan lain sebagainya. Tentu menjadi pertanyaan mengapa kerjasama logistik dengan Angkatan Laut lain di kawasan Asia Tenggara terkesan ketinggalan dibandingkan kerjasama di bidang operasi dan latihan.
Nampaknya terdapat beberapa penyebab mengapa hal demikian terjadi? Pertama, bisa jadi karena belum adanya rasa saling percaya yang kuat. Sebagai contoh, kapal perang negeri pelindung dan penampung koruptor asal Indonesia bila bersandar di pelabuhan Indonesia tidak pernah mau menggunakan fasilitas dukungan BBM maupun air tawar dari fasilitas Angkatan Laut Indonesia. Sebaliknya mereka memesan sendiri pasokan logistik dari agen mereka di sini.
Kondisi itu mungkin karena mereka kurang percaya dengan tingkat kemurnian dan sterilisasi logistik dari Indonesia. Kasus ini mirip dengan keengganan pesawat komersial berjadwal yang enggan mengisi bahan bakar di bandara di Indonesia, dengan alasan ragu terhadap kualitas bahan bakar yang dipasok. Dari penyebab pertama ini jelas kaitannya merembet keluar dari domain Angkatan Laut, yaitu pemasok dan produsen bahan bakar Indonesia.
Kedua, mungkin saja karena masing-masing Angkatan Laut berupaya menjaga bagian-bagian sensitif dalam sistem senjatanya dari telisikan pihak asing. Bentuk yang kedua ini dapat terjadi apabila kapal perang satu negara Asia Tenggara dipelihara di fasilitas galangan kapal milik negara Asia Tenggara lainnya. Meskipun resiko serupa juga terjadi apabila kapal dipelihara di galangan kapal asing di luar kawasan ini, tetapi nampaknya sensitivitas akan telisikan negara tetangga lebih tinggi daripada hal serupa yang dilakukan oleh negara yang letaknya berada di luar kawasan ini.
Ketiga, belum ada niat dari negara-negara Asia Tenggara untuk menjalin kerjasama logistik. Hal itu sangat mungkin berangkat dari rasa saling tidak percaya yang masih terpendam, meskipun sejak lama upaya CBM telah dilaksanakan. Sebagian negara di kawasan ini lebih merasa nyaman melakukan kerjasama logistik dengan kekuatan laut ekstra kawasan.
Dari kondisi nyata saat ini, benang merahnya adalah belum kukuhnya CBM di antara negara-negara Asia Tenggara. Termasuk di dalamnya naval confidence building measures.

Tidak ada komentar: