24 Juni 2009

Kekuatan Laut Dan Aspirasi Politik Di Kawasan

All hands,
Berbicara mengenai konsep peperangan asimetris, satu dari empat wujud asimetris adalah pada persenjataan. Tiga lainnya adalah kekuatan, organisasi dan moral alias semangat juang. Kalau kita teliti dengan cermat, asimetris pada aspek persenjataan tidak identik dengan aktor negara versus aktor non negara. Justru kategori aktor negara lawan aktor negara lebih sering masuk di dalam aspek asimetris tersebut.
Asimetris pada aspek persenjataan juga terjadi pada Angkatan Laut di Asia Tenggara. Sudah menjadi rahasia umum bahwa Angkatan Laut Singapura jenis persenjataannya banyak sekali, yang kalau didalami sudah berlebihan untuk melindungi negeri penampung para koruptor dan uang haram itu. Bayangkan saja, sejumlah fregat kelas Formidable dan empat kapal selam (belum terhitung dua kapal selam kelas Vastergotland) terlalu sesak untuk beroperasi di perairan negeri penampung barang selundupan yang Puak Melayu menjadi warga negara kelas di dunia di kampungnya sendiri.
Kekuatan asimetris terjadi ketika dibandingkan dengan kekuatan laut Indonesia. Negeri ini justru kekuatan lautnya sedikit dan tidak proporsional dengan luas perairannya. Kekuatan kapal atas air, kapal selam dan pesawat udara Angkatan Lautnya tidak imbang dengan wilayah tanggung jawabnya.
Memang ada yang lebih parah kondisi Angkatan Lautnya dibandingkan dengan Indonesia, yaitu Filipina. Akan tetapi hebatnya negeri yang stabilitasnya seringkali guncang ini tidak ada yang berani menganggu, bahkan Negeri Tukang Klaim sekalipun yang tabiatnya sejak dikasih hadiah kemerdekaan oleh Inggris adalah suka mengklaim segala sesuatu yang sesungguhnya milik orang lain. Sekali lagi, bandingkan dengan Indonesia.
Dengan kondisi asimetris seperti ini, apa yang bisa dilakukan oleh Indonesia? Aspirasi kita untuk kembali menjadi primus inter pares di Asia Tenggara, termasuk dalam aspek kekuatan militer, hanya bisa diwujudkan apabila kekuatan hard power negeri ini dibangun. Mustahil menjadi primus inter pares tanpa didukung oleh hard power, sebab kancah pergaulan internasional bukanlah ruang pesta diplomat yang penuh dengan basa-basi kesopanan, melainkan hutan rimba yang hanya mengenal siapa yang kuat dan siapa yang lemah.
Jangan pernah beranggapan bahwa ketika Indonesia menjadi primus inter pares di era Orde Baru sama sekali tanpa kontribusi hard power. Harap diketahui hingga awal 1990-an AL kita menempati peringkat pertama di kawasan Asia Tenggara dari segi persenjataan. Indonesia hendaknya tidak naif dengan soft power yang tidak berguna sama sekali ketika menyentuh isu kepentingan nasional di bidang keamanan. Daripada sibuk berkutat dengan isu soft power yang tidak jelas hasilnya itu, lebih baik secepatnya membenahi kekuatan pertahanan negeri ini, termasuk Angkatan Laut.
Jangan pernah ragukan kebenaran tesis bahwa mempunyai Angkatan Laut yang kuat akan membantu mencapai aspirasi politik suatu negara. Hal itu sudah dibuktikan selama ratusan tahun oleh banyak negara. Dengan kata lain, sudah terbukti pada tataran empiris. Bandingkan dengan teori soft power yang usianya masih muda, sehingga kebenarannya pun masih sangat dipertanyakan.

1 komentar:

Jos mengatakan...

Lho . inikan sama persis dengan yang di-inginkan oleh SBY .. Nggak ingin TNI yang kuat sekali ..

Hidup Soft Power ... Hehehehe