10 Juli 2010

Tantangan Operasional Di Laut Arafura

All hands,
Isu keamanan di Laut Arafura selain terkait dengan ancaman dan tantangan asimetris seperti pencurian sumberdaya laut, terkait pula dengan ancaman dan tantangan simetris. Hal yang terakhir ini antara lain patroli kekuatan laut dan udara Australia yang menjangkau perairan tersebut. Bukan sekali atau dua kali pesawat patroli maritim P-3 Orion memasuki wilayah perairan Indonesia di laut tersebut. Situasi ini akan terus berulang apabila Indonesia tidak meningkatkan kualitas kehadirannya di perairan itu.
Untuk menghadapi situasi di Laut Arafura, dibutuhkan keterpaduan patroli antara unsur kekuatan laut Indonesia dan unsur kekuatan udara negeri ini. Selama ini, keterpaduan itu belum ada. Patroli yang digelar kedua unsur berjalan sendiri-sendiri.
Lalu bagaimana caranya? Pertama, kedua belah pihak harus duduk bersama. Kedua, turunkan kadar egoisme sektoral. Ketiga, susun rencana operasi secara bersama.
Ketika duduk bersama, salah satu isu yang muncul pasti soal keterbatasan unsur patroli. Untuk menjawab isu ini, perlu adanya unsur yang setiap saat didedikasi khusus untuk patroli di perairan itu. Soal unsur itu nantinya akan dirotasi dalam waktu tertentu, bukan menjadi suatu masalah sepanjang unsur itu segera diganti oleh unsur yang lain dalam waktu singkat.
Laut Arafura mempunyai nilai strategis, sebab merupakan penghubung antara Australia dan Asia Timur sekaligus bagian dari ALKI III. Kondisi di perairan itu akan menentukan pula kualitas hubungan Indonesia dengan negeri yang didirikan oleh para kriminal tersebut. Perairan tersebut juga merupakan pintu masuk bagi militer Australia untuk proyeksi kekuatan ke kawasan Indonesia Timur.

Tidak ada komentar: