Tampilkan postingan dengan label Tradisi Angkatan Laut. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tradisi Angkatan Laut. Tampilkan semua postingan

27 Juli 2010

Desakralisasi Baret

All hands,
Apabila dicermati, dewasa ini dalam banyak kesatuan militer di Indonesia terjadi desakralisasi baret. Setidaknya sampai pertengahan 1990-an, pemakaian baret hanya diperuntukkan bagi satuan khusus atau satuan elit. Biasanya yang menggunakan penutup kepala jenis ini adalah satuan tempur, semisal Marinir atau Kopaska di Angkatan Laut. Namun seiring dengan berjalannya waktu, baret dipakai secara meluas di lingkungan satuan militer reguler. Sehingga disadari atau tidak, kebanggaan menggunakan baret yang sebelumnya terkesan sakral mengalami desakralisasi. Di luar lingkungan Angkatan Laut misalnya, ada satuan-satuan yang selama ini tidak dipandang elit kini diperbolehkan menggunakan baret sebagai penutup kepala mereka.
Sebenarnya desakralisasi baret bukan cuma terjadi di tubuh militer Indonesia, tetapi melanda pula di organisasi Angkatan Bersenjata negara maju seperti Amerika Serikat. Sebagai ilustrasi, sejak awal 2000-an pasukan reguler Angkatan Darat Uwak Sam menggunakan baret hitam. Pemakaian itu mendapat kritik keras dari para mantan personel U.S. Army Special Forces yang dikenal sebagai The Green Berets. Kebijakan demikian dipandang oleh para eks anggota pasukan khusus itu sebagai menurunkan nilai pemakaian baret yang sebelumnya identik dengan pasukan khusus atau pasukan elit.
Adapun di Angkatan Laut Amerika Serikat, sepengetahuan saya mereka tidak menggunakan baret, setidaknya di kapal perang. Yang dimaksud dengan Angkatan Laut Amerika Serikat di sini adalah di luar U.S. Marine Corps. Tidak adanya pemakaian baret itu bisa jadi karena pertimbangan operasional, di mana pemakaian baret di kapal perang akan merepotkan, khususnya ketika harus melakukan kegiatan di dek bagian laur yang bersinggungan langsung dengan kencangnya hembusan angin laut. Tentu akan merepotkan antara mengurusi baret di tengah hembusan angin kencang dengan berkonsentrasi pada tugas-tugas yang diperankan.
Sebagai ganti dari baret, para pelaut Amerika Serikat biasanya menggunakan dop sebagai ciri khas Angkatan Laut pada saat menjalankan kegiatan di dek bagian luar yang bersinggungan langsung dengan angin laut. Bagi perwira dan NCO, mereka menggunakan pet Angkatan Laut yang dilengkapi dengan tali yang dikaitkan pada dagu untuk mencegah pet mereka terbawa angin. Tidak jarang pula mereka menggunakan pet lapangan untuk beberapa peran di kapal, seperti peran lambung.
Ditinjau dari aspek filosofis desain busana, pemilihan suatu jenis seragam ---termasuk di dalamnya penutup kepala--- dilakukan berdasarkan pertimbangan kenyamanan pemakaian, lingkungan kerjanya di mana, pertimbangan keselamatan dan lain sebagainya. Sebaiknya hal demikian juga diperhatikan di Indonesia.

07 September 2009

Join The Navy And See The World

All hands,
Slogan Join The Navy and See The World suatu tidak asing lagi bagi siapapun yang berada di domain Angkatan Laut di mana pun. Tentu menjadi menarik mengapa slogan itu begitu unik. Sebagai perbandingan, slogan untuk menarik kalangan muda bergabung dengan Angkatan Darat biasanya cuma berbunyi Join The Army and Change Your Life.
Slogan ajakan untuk bergabung dengan Angkatan Laut yang bunyinya unik itu tidak lepas dari karakteristik Angkatan Laut, dalam hal ini sistem senjatanya yaitu kapal perang. Berbeda dengan angkatan lainnya, kapal perang mempunyai kemampuan untuk melaksanakan proyeksi kekuatan, baik di masa damai maupun di masa perang. Dengan proyeksi kekuatan ke luar wilayah negara induk, berarti Angkatan Laut telah berinteraksi dengan masyarakat internasional dari berbagai latar belakang negara, budaya, agama dan lain sebagainya.
Itulah salah satu alasan mengapa slogan ajakan bergabung dengan Angkatan Laut ada frase See The World. Angkatan Laut akan selalu berinteraksi dengan pihak asing, baik sesama Angkatan Laut maupun bagian masyarakat lainnya. Oleh karena itu, Angkatan Laut mempunyai peran yang tidak dimiliki oleh kecabangan militer lainnya, yaitu diplomasi.
Bagi personel Angkatan Laut negara-negara maju, kesempatan mereka untuk (to) see the world setelah join the Navy sangat terbuka lebar. Sebab kebijakan politik luar negeri dan pertahanan mereka sangat kondusif bagi proyeksi kekuatan Angkatan Laut. Situasi berbeda dihadapi oleh Angkatan Laut negara-negara berkembang, yang mana peluang untuk (to) see the world lebih sedikit. Sebab sebagian besar dari Angkatan Laut itu tidak memproyeksikan kekuatannya secara rutin, kecuali bersifat situasional.
Namun kondisi tersebut hendaknya tidak menurunkan minat para pemuda untuk bergabung di Angkatan Laut, khususnya di Indonesia. Upaya untuk (to) see the world dengan frekuensi yang lebih tinggi daripada saat ini di Indonesia harus didukung oleh pemerintah, yaitu melalui modernisasi kekuatan Angkatan Laut.

05 Mei 2009

Tradisi Dan Ciri Khas Angkatan Laut

All hands,
Angkatan Laut mempunyai tradisi dan ciri khas yang berbeda dengan Angkatan Darat dan Angkatan Udara. Hal itu tercermin dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan organisasi Angkatan Laut, baik di pendirat maupun kapal perang. Misalnya penggunaan peluit untuk berbagai isyarat, aba-aba maupun perintah. Juga pemakaian lonceng untuk penunjukan waktu, yang mana bisa mengecoh orang awam apabila tidak paham bagaimana mengartikan bunyi lonceng tersebut dikaitkan dengan jam yang sedang berjalan.
Tradisi dan ciri khas Angkatan Laut juga dapat dilihat dari atribut yang ada, misalnya pada seragam personel Angkatan Laut. Di banyak Angkatan Laut di dunia, sangat mudah membedakan mana yang tergolong kelasi, mana yang tergolong Petty Officer. Begitu pula antara Petty Officer dengan perwira.
Misalnya penggunaan logo Angkatan Laut di pet perwira dan Petty Officer. Logo Angkatan Laut di pet perwira mengacu pada logo resmi Angkatan Laut negaranya, yang mana warnanya adalah kuning keemasan. Sedangkan untuk Petty Officer, logo pada pet adalah jangkar saja dengan warna perak. Adapun kelasi menggunakan dop, baik untuk PDH maupun PDU.
Kenapa demikian? Sebab Angkatan Laut di dunia mempunyai hirarki. Hirarki itu salah satunya berdasarkan golongan kepangkatan dan dipraktekkan secara ketat dalam kehidupan sehari-hari.
AL kita juga mewarisi tradisi demikian, sebab banyak generasi terdahulu Angkatan Laut negeri ini merupakan hasil didikan dari Koninklijke Marine. Tradisi dan ciri khas yang dianut oleh KM diwariskan kepada AL kita. Makanya banyak sekali istilah di AL kita yang sebenarnya berasal dari Bahasa Belanda, seperti oemrop, valreep dan lain sebagainya.
Pertanyaannya adalah apakah tradisi dan ciri khas Angkatan Laut yang diwariskan dari generasi terdahulu AL negeri ini masih terjaga atau mulai mengalami degradasi? Angkatan Laut di manapun di dunia bangga dengan tradisi dan ciri khas yang dimilikinya. Meskipun tidak sama dengan Angkatan Darat dan Angkatan Udara, tetapi itulah tradisi dan ciri khas Angkatan Laut. Angkatan Laut adalah Angkatan Laut!!!