10 Juni 2008

Invasi Simultan Sonora: Latgab 2008 (Bag-1)

All hands,
Skenario Latgab TNI 2008 dimulai dari adanya invasi dari negara Sonora (entah di mana itu) ke kawasan Asia Tenggara secara simultan. Di Indonesia, jurusan serangan dia ke kawasan Natuna dan Kalimantan Timur. Gitu skenarionya.
Jujur saja, saya gatal dan geli dengan skenario itu. Yah karena nggak realistis saja. Mana ada sih negara di jaman sekarang ---pasca Perang Dingin--- yang mampu dan berani invasi beberapa negara sekaligus secara simultan. Sekarang ini bukan jamannya lagi invasi, dengan Afghanistan dan Irak sebagai perkecualian. Kenapa bukan jamannya? Biayanya terlalu besar, baik itu fiskal maupun non fiskal.
Invasi ke Afghanistan dan Irak perkecualian karena Washington tak mampu singkirkan para pemimpin negeri itu lewat “jalan biasa”. Makanya dia invasi dan di balik invasi itu ada kepentingan minyak. Lalu Indonesia bagaimana?
Kita tak punya minyak. Kalau Washington nggak sreg dengan penguasa di Jakarta, masih banyak cara lain untuk jatuhkan sang penguasa. Di sini kan anteknya banyak...dari birokrat sampe LSM. Lihat saja nasib Soeharto yang dijatuhkan Washington tanpa perlu invasi Indonesia.
Dari segi luas negara, Afghanistan dan Irak itu nggak ada seberapanya Indonesia. Kalau pun ada negara yang mampu invasi Indonesia, dia nggak akan mampu duduki segenap wilayah dari Merauke sampai Sabang. Paling banter sasaran utamanya Pulau Jawa. Adapun luar Jawa, diserahkan ke sekutunya. Tengoklah sejarah Indonesia saat baru merdeka, Belanda invasi Jawa sementara Indonesia Timur diduduki oleh Australia.
Singkat kata, skenario adanya kekuatan besar yang akan invasi dan duduki Indonesia tidak realistis atau setidak-tidaknya kurang realistis. Yang justru harus kita waspadai karena realistis adalah surgical strike atau sejenisnya. Atau mungkin serangan pelecehan.
Sepengetahuan saya, TNI belum siap hadapi skenario itu. Buktinya apa? Lihat saja, TNI belum ada aturan pelibatan soal itu. Aturan pelibatan yang ada pun ---aturan pelibatan di masa damai--- tidak tegas. Apa-apa lapor ke komando atas dan koordinasi ke satuan samping. Gimana kalau lawan udah tembak kapal kita? Apa kita harus lapor dulu ke atas? Jangan-jangan perintah balas tembakan sampai ke kapal kita ketika kapal kita sudah sentuh dasar laut!!!
Terus apa gunanya aturan pelibatan dong kalau dikit-dikit lapor ke komando atas. Sepemahaman saya, aturan pelibatan itu disiapkan untuk menghadapi situasi yang gawat dan dibutuhkan tindakan segera.
So...kembali ke skenario latgab, kenapa kita nggak uji dengan yang lebih realistis. Contoh, apa tindakan unsur-unsur TNI bila hadapi tindakan pelecehan oleh Malaysia di Ambalat? Apa tindakan TNI bila kasus Bawean Juli 2003 terulang kembali? Sudah kita bersiap dengan skenario itu?
Skenario demikian tantangan yang kita hadapi di lapangan sehari-hari, khususnya di laut. Jadi bukan invasi seperti dirancang dalam latgab!!!

1 komentar:

Widy mengatakan...

Sangat menarik berbicara tentang skenario latgab. tetapi menurut saya....apapun sknerionya (seperti iklan saja...) yang paling pokok adalah maksud dan tujuan dari latgab itu sendiri? lho? lha iyalah..... skeneario itu kan merupakan penjabaran dari tujuan latgab.
menurut saya lagi.. tujuan latgab itu ada dua macam. pertama; uji protap seperti yang sudah disampaikan dan yang kedua adalah uji kemampuan penggunaan alutsista gabungan itu. nah...baru skenario disusun berdasarkan pilihan tujuan yang dikehendaki. masalah skenario tidak masuk akal.....contoh seperti skenario yang sekarang selama tujuan latgab ini jelas.....semestinya tidaklah masalah. yang menjadi masalah adalah....latgab ini betujuan apa? lha kalau tujuannya saja belum didefinisikan...terus membikin skenario.....lha ini yang runyam.....

salam
old popeye
nice topic for discuss......