Tampilkan postingan dengan label Sejarah Maritim. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah Maritim. Tampilkan semua postingan

27 Maret 2011

Mengembangkan Doktrin Dari Sejarah

All hands,
Doktrin militer bukanlah suatu kitab suci yang tidak dapat diubah. Doktrin militer bukan pula sesuatu yang turun dari langit. Sebaliknya, doktrin militer harus senantiasa mengalami penyesuaian atau perubahan seiring berjalannya waktu, sebab perjalanan waktu berarti adanya perubahan terhadap hal-hal yang terkait dengan dunia militer. Singkatnya, kebenaran dalam doktrin militer adalah kebenaran relatif, yaitu kebenaran yang berlaku dalam suatu ruang dan waktu.
Bertolak dari keyakinan demikian, banyak kekuatan Angkatan Bersenjata di dunia senantiasa merevisi doktrin yang mereka anut. Lihat saja doktrin U.S. Navy dari era Perang Dingin hingga pasca 11 September 2011. Perubahan doktrin tersebut salah satunya dikaitkan dengan faktor sejarah, khususnya pengalaman operasi terbaru yang mereka hadapi. Operasi di Afghanistan dan Irak banyak mempengaruhi revisi doktrin militer Amerika Serikat masa kini.
Semua itu terjadi karena salah satu sumber doktrin adalah sejarah militer. Tak heran bila para ahli sejarawan mendapat tempat khusus di lembaga-lembaga militer negara-negara maju, sebab mereka-lah yang mengkompilasi berbagai arsip operasi militer untuk kemudian diolah sedemikian rupa sehingga produk akhirnya adalah doktrin. Lihat saja para pengajar di U.S. Naval War College, sebagian di antaranya adalah para profesor sejarah.
Dalam konteks Indonesia, sayangnya revisi doktrin yang bersumber pada sejarah terbaru masih belum dilakukan. Padahal sejarah operasi militer Indonesia sudah banyak sekali, sehingga sejarah pengalaman operasi militer selama Perang Kemerdekaan 1945-1949 sebagian besar sudah tidak valid lagi. Pasca Operasi Trikora dan Dwikora, kekuatan Angkatan Bersenjata Indonesia memiliki pengalaman Operasi Seroja 1975 dan berbagai operasi lanjutan di Timor Timur hingga 1999, ada pula operasi militer di Aceh dari 1976 hingga 2005, begitu pula operasi militer di Papua. Semua operasi yang digelar tersebut sangat jelas merupakan lumbung sejarah sekaligus sumber bagi revisi doktrin militer Indonesia.
Meskipun operasi-operasi tersebut sebagian besar lebih berat pada operasi di daratan, akan tetapi bukan berarti tak ada ruang bagi Angkatan Laut di sana. Sebab Angkatan Laut memainkan peran pula di sana, walaupun porsinya tidak sebesar kekuatan darat. Dari peran yang dimainkan tersebut, sebenarnya memberikan jendela kesempatan untuk meninjau, mengkaji dan kemudian merevisi doktrin-doktrin yang selama ini dianut. Bahkan operasi di Laut Sulawesi (Ambalat) dapat menjadi sumber lainnya bagi revisi doktrin Angkatan Laut.
Untuk bisa menuju ke arah sana, salah satu hal penting yang harus tersedia adalah tersedianya arsip-arsip operasi tersebut. Arsip-arsip itu akan dikumpulkan dan kemudian dikaji oleh para sejarawan militer (bahkan mungkin sejarawan sipil) untuk kemudian didiskusikan lebih lanjut dengan para perwira yang berlatar belakang satuan operasional. Sebab dari kajian tersebut pasti akan ditemukan banyak lesson learned yang dapat menjadi dasar bagi revisi doktrin Angkatan Laut.

22 Maret 2011

Pahlawan Nasional Angkatan Laut

All hands,
Cara pandang bangsa Indonesia yang masih berorientasi kontinental bisa dilihat pula dari jumlah pahlawan nasional. Jumlah pahlawan nasional yang berasal dari Angkatan Laut sangat amat sedikit sekali. Bandingkan dengan pahlawan nasional dari matra militer lainnya.
Mau tahu berapa jumlah pahlawan nasional dari Angkatan Laut? Tidak lebih dari lima jari saja.
Situasi itu menggambarkan betapa dari urusan penetapan pahlawan nasional pun, dunia maritim belum dilirik. Memang dari aspek sejarah, operasi Angkatan Laut Indonesia yang berupa pertempuran heroik tidak banyak. Namun perlu dipahami bahwa kepahlawanan seseorang tidak harus dilihat dari urusan pertempuran, khususnya bagi personel militer. Toh berjasa kepada bangsa dan negara tidak berarti harus selalu gugur di medan tempur.
Sedikitnya pahlawan nasional dari Angkatan Laut bisa jadi menunjukkan pula betapa kepahlawan dari laut belum digali secara komprehensif. Misalnya operasi kapal selam dalam rangka operasi Trikora patut untuk digali kembali. Sebab dalam pelaksanaan operasi itu seringkali ada kontak langsung dengan musuh, meskipun tidak pecah menjadi pertempuran laut.
Kalau melihat sejarah Angkatan Laut negeri ini, tidak sedikit personel Angkatan Laut yang berjasa kepada bangsa dan negara, hanya saja status mereka bukan (atau belum) pahlawan nasional. Nama mereka hanya diabadikan di lingkungan pendirian darat Angkatan Laut, pula di kapal perang.
Pesan yang ingin disampaikan di sini adalah paradigma kepahlawanan bangsa ini masih berbau kontinental. Orang-orang yang berjasa dari matra non kontinental belum dilirik untuk diteliti lebih lanjut akan jasa-jasanya terhadap bangsa dan negara ini.

24 Oktober 2010

Iritasi Terhadap India

All hands,
Dalam sejarah India modern, terdapat dua Angkatan Laut yang mampu menimbulkan iritasi pada India. Pertama adalah Angkatan Laut Indonesia, sedangkan kedua adalah Angkatan Laut Amerika Serikat. Kapan dan mengapa kedua Angkatan Laut mampu menimbulkan iritasi terhadap Negeri Sungai Gangga?
Angkatan Laut Indonesia memunculkan iritasi kepada India ketika pecah Perang India-Pakistan Agustus 1965. Pemerintah Indonesia memutuskan menyebarkan satuan tugas yang terdiri dari kapal selam dan kapal permukaan ke Teluk Benggala pada September 1965 untuk menunjukkan dukungan kepada Pakistan sekaligus untuk men-deter India agar tidak menginvasi Pakistan Timur atau kini dikenal sebagai Bangladesh. Operasi yang digelar oleh gugus tugas itu secara tidak resmi dikenal sebagai Operasi Chittagong.
Angkatan Laut Amerika menimbulkan iritasi terhadap India saat pecah Perang India-Pakistan pada Desember 1971. Seperti halnya Jakarta pada Perang 1965, Washington dalam Perang 1971 juga menyebarkan gugus tugasnya ke Teluk Benggala yaitu kapal induk USS Enterprise (CNV-65). Sebagaimana sikap politik Jakarta, Washington juga berada pada pihak Islamabad dalam perang itu. Bedanya, dalam perang kali ini India yang mendukung kelompok separatis di Pakistan Timur mampu mencapai tujuannya yaitu memisahkan Pakistan Timur dari Pakistan sehingga menjadi negara sendiri yang kini dikenal sebagai Bangladesh.
Lalu apa pelajaran yang dapat ditarik dari dua kasus yang dialami India? Tentu saja terdapat banyak pelajaran yang dapat ditarik, misalnya kemampuan Angkatan Laut untuk mempengaruhi peristiwa yang tengah dan akan terjadi di daratan. Berikutnya, kekuatan Angkatan Laut dapat disebar kapan saja tanpa harus memasuki perairan teritorial negara lain. Selanjutnya, Angkatan Laut merupakan kekuatan yang efektif untuk disebarkan kapan saja dan dapat berlangsung dalam waktu lama.
Khusus bagi Indonesia masa kini, kemampuan Indonesia masa lalu merupakan tantangan sendiri. Apakah Indonesia masa kini yang kondisi ekonominya jauh lebih maju dibandingkan Indonesia masa lalu tidak mampu membangun kekuatan laut yang disegani di kawasan?

10 September 2009

10 September Sebagai Hari Lahir Angkatan Laut

All hands,
Tanggal 10 September telah ditetapkan sebagai Hari Ulang Tahun Angkatan Laut negeri ini. Tentu menjadi pertanyaan, mengapa 10 September? Karena pada 10 September 1945 dibentuk BKR Laut sebagai realisasi dari pembentukan BKR pada 22 Agustus 1945. Sehingga tidak berlebihan bila mengatakan bahwa AL kita sebenarnya dibentuk oleh KNIP, bukan oleh pemerintah.
Masalah hari jadi Angkatan Laut Indonesia memang sempat menjadi perdebatan. Tidak sedikit pihak yang mempertanyakan keabsahan penetapan 5 Desember sebagai hari jadi Angkatan Laut. Sebab 5 Desember yang dijadikan patokan tersebut adalah 5 Desember 1959, yakni pembentukan Armada RI berdasarkan Keputusan Kasal Kolonel Pelaut Martadinata. Sebelum 5 Desember 1959, Indonesia telah mempunyai Angkatan Laut yang dilengkapi dengan berbagai jenis kapal perang, akan tetapi belum membentuk armada sebagai satuan induk berbagai kapal perang itu.
Yang juga kurang tepat adalah menarik usia AL kita terhitung sejak 1945. Jadi tanggal pembentukan Armada RI diadopsi sebagai hari pembentukan Angkatan Laut, namun tahunnya ditarik mundur ke tahun 1945. Secara logika sejarah, pendekatan demikian tidak mempunyai dasar. Lebih dari itu, kalau diteliti lebih lanjut sejarah Angkatan Indonesia khusus pada 5 Desember 1945 tidak ada peristiwa terkait Angkatan Laut yang terjadi.
Sejarah Angkatan Laut Indonesia kini telah diluruskan kembali sesuai dengan apa yang sesungguhnya terjadi. Di depan, tantangan bagi aspirasi menciptakan Angkatan Laut yang berjaya di kawasan masih besar. Tidak ada pilihan lain, tantangan itu harus kita hadapi agar suatu saat Angkatan Laut benar-benar menjadi cermin kejayaan bangsa Indonesia. Pertanyaannya adalah apakah para anak bangsa ---termasuk pengambil keputusan di negeri ini--- sudah memiliki sense of belonging terhadap AL kita?
Yang pasti, saat ini kita diberi kado pahit oleh pengambil keputusan di negeri ini di suasana HUT Angkatan Laut, yakni pengulur-uluran pengadaan kapal selam. Sebuah kado yang menurut hemat saya tidak pantas diberikan kepada Angkatan Laut sebagai anak kandung bangsa sendiri. Sungguh suatu kado yang sangat tidak pantas, apa pun alasannya. Sebab sekarang bukan lagi era gun or butter, tetapi telah memasuki masa gun and butter.

30 Agustus 2009

Sejarah Angkatan Laut Yang Terlewatkan

All hands,
Sejarah adalah bagian dari masa depan, bukan bagian dari masa lalu. Perlakuan kita terhadap sejarah akan menentukan masa depan kita. Kalau kita tidak mengenal sejarah kita sendiri, masa depan yang akan kita bentuk akan baseless.
Angkatan Laut negeri ini mempunyai sejarah yang panjang dan kaya. Sebagian dari sejarah itu sudah terdokumentasikan dalam publikasi resmi, namun ditengarai sebagian lainnya masih tersimpan pada para pelaku yang masih hidup atau keturunan dari para pelaku. Bisa jadi bagian dari sejarah itu tersimpan karena masalah politik di masa lalu, like and dislike dan lain sebagainya.
Salah satu hal penting yang perlu digali dalam sejarah kekuatan laut Indonesia adalah paham navalisme. Harus kita paham, paham navalisme mengalami degradasi tajam karena peralihan rezim politik di masa lalu. Dampaknya kini kita rasakan bersama, betapa pemahaman terhadap navalisme di lingkungan kekuatan laut negeri ini tidak merata. Contoh sederhana adalah pemahaman terhadap tradisi-tradisi Angkatan Laut, yang tidak semua pihak paham akan latar belakang lahirnya tradisi itu.
Paham navalisme kita saat ini terkontaminasi oleh paham kontinental yang sebenarnya bertolak belakang. Karena kontaminasi itu, disadari atau tidak seringkali kita kurang tepat menentukan haluan. Belum lagi masih kuatnya upaya dari pihak-pihak luar untuk membendung oenyebaran paham navalisme, sebab paham ini apabila direalisasikan ke alam nyata yaitu pembangunan kekuatan Angkatan Laut akan menjadikan Angkatan Laut negeri ini lebih menonjol dibandingkan matra lainnya.
Kalau mendengar cerita langsung dari generasi awal perwira lulusan IAL/Den Helder/AAL atau setidaknya membaca buku-buku memoar mereka, tergambar jelas betapa tingginya pemahaman mereka terhadap navalisme. Ada kebanggaan tersendiri bagi mereka menjadi perwira Angkatan Laut. Suatu kebanggaan yang sulit untuk dikatakan semu, sebab tidak sulit membedakan antara yang semu dan nyata.
Tantangan yang dihadapi saat ini adalah bagaimana menggali kembali sejarah paham navalisme yang sangat mewarnai kekuatan laut negeri ini hingga akhir 1960-an. Kejayaan Angkatan Laut tidak akan tercapai tanpa mengemuka atau dominannya paham navalisme. Paham itu perlu untuk dibangkitkan kembali dan ditanamkan di lingkungan kekuatan laut negeri ini. Dengan demikian, ada keseimbangan antara pembangunan kekuatan yang berupa pengadaan kapal perang dan pesawat udara baru dengan pembangunan mental setiap insan Angkatan Laut negeri ini.

12 Maret 2009

Angkatan Laut Dan Sejarah Bangsa

All hands,
Kalau kita berdiskusi dengan kalangan sejarahwan, salah satu butir yang akan mereka angkat mengenai sejarah bangsa Indonesia pasca 1945 adalah dominannya penempatan militer dalam cerita sejarah yang disusun. Seolah-olah peran komponen bangsa Indonesia lainnya dalam perjalanan sejarah pasca 1945 tidak banyak. Dengan kata lain, sejarah bangsa Indonesia identik dengan sejarah militer. Militer yang dimaksud di sini sudah pasti menunjuk pada pihak tertentu, bukan militer secara keseluruhan.
Tidak heran bila dalam Doktrin ABRI di masa lalu, tidak bisa dibedakan mana yang tergolong sejarah bangsa, mana yang diklasifikasikan sejarah militer. Padahal secara teoritis maupun empiris kedua hal tersebut jelas berbeda. Sejarah bangsa pada waktu itu seringkali dikooptasi oleh sejarah militer. Tentu kita yang bersekolah pada era 1980-an hingga awal 1990-an masih ingat pelajaran sejarah yang isinya kebanyakan soal perang atau operasi militer.
Dikaitkan dengan AL kita, eksistensi AL dalam sejarah sudah ada sejak hari-hari pertama Proklamasi. Namun dalam konteks Angkatan Laut yang modern, maksudnya organisasinya lengkap, begitu pula sistem senjata dan pembinaan personel, baru tersusun pada 1950 setelah Pengakuan Kedaulatan oleh Belanda. Pengakuan Kedaulatan kemudian disusul dengan penyerahan aset-aset Koniinklije Marine kepada ALRIS, termasuk di dalamnya kapal perang.
Sumbangsih AL terhadap upaya mengamankan kepentingan nasional negeri ini tidak perlu diragukan lagi. Kampanye Trikora dan Dwikora merupakan salah satu puncak pengabdian AL kita kepada Ibu Pertiwi. Atas dukungan politik yang kuat dari pemerintah saat itu, AL kita memberikan kontribusi yang tidak sedikit dalam kedua kampanye militer. Termasuk pula gugurnya para personel AL dan KKO, yang tentu saja nama Usman dan Harun tidak akan dilewatkan dari situ.
Namun adakah penghargaan yang patut dari bangsa ini terhadap apa yang telah dilakukan oleh AL di masa lalu? Memang di mana pun di dunia, militer profesional tidak pernah meminta penghargaan ketika menunaikan misinya. Namun bangsa yang mempunyai militer itu, biasanya tidak akan pernah melupakan pengorbanan dan jasa-jasa yang telah diperbuatkan oleh militer mereka.
Lihatlah Amerika Serikat dengan Vietnam War Memorial. Perang Vietnam memang menimbulkan perpecahan pendapat di masyarakat Amerika Serikat. Namun tidak demikian halnya dengan kehadiran Vietnam War Memorial. Tempat itu seolah menjadi tempat yang wajib dikunjungi oleh bangsa Amerika bila mereka bertandang ke Washington.
Lepas dari soal apakah di monumen itu ada nama sanak saudara mereka atau tidak. Kata kuncinya adalah mereka menghargai pengorbanan putra-putri militer di dinas militer!!! Karena mereka berperang demi Star and Spangled Banner, bukan demi U.S. Navy, U.S. Marine Corps, U.S. Army atau U.S. Air Force.
Lalu bagaimana dengan kita? Ambil contoh peringatan pertempuran Laut Aru pada setiap 15 Januari. Lepas dari banyaknya kekurangan kita dalam pertempuran laut yang tidak berimbang itu, semestinya peristiwa itu patut dikenang oleh semua bangsa Indonesia. Sayangnya peringatan pertempuran Laut Aru hanya dilakukan oleh AL saja, sementara komponen bangsa lainnya tidak melakukan hal yang sama.
Seolah-olah pertempuran Laut Aru adalah milik AL. Padahal jelas bukan, itu milik bangsa Indonesia. AL terlibat dalam pertempuran Laut Aru karena perintah pemimpin nasional dalam rangka Trikora. Tapi itulah kenyataan yang terjadi saat ini, bangsa ini seolah tak menghargai sejarah pertempuran Laut Aru.
Belum lagi soal Usman-Harun. Seberapa banyak bangsa ini yang mengenal perjuangan mereka. Jangan-jangan bangsa Indonesia yang bertugas di KBRI Singapura pun sudah tidak ingat lagi soal Usman-Harun. Apalagi bagi masyarakat Indonesia yang hobi pesiar dan menghabiskan uang di Singapura.
Menyedihkan memang!!!