31 Januari 2010

Instrumen Penangkalan

All hands,
Militer adalah satu dari beberapa instrumen penangkalan yang digunakan oleh banyak negara. Ketika berdiskusi tentang militer, manakah pilihan yang terbaik untuk melaksanakan penangkalan? Apakah Angkatan Laut, Angkatan Udara atau Angkatan Darat?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, konteksnya harus jelas terlebih dahulu. Dalam konteks Indonesia sebagai negara kepulauan dan pihak yang ingin ditangkal lebih dari satu, pilihan penangkalan mengerucut pada Angkatan Laut dan Angkatan Udara. Sebab kedua matra mempunyai karakteristik yang sama, yaitu mobilitas tinggi dan didukung dengan sistem senjata yang lebih mematikan. Sebaliknya, mobilitas Angkatan Darat cukup rendah karena sifatnya yaitu manusia yang dipersenjatai, selain tentu saja sistem senjatanya kurang mematikan dibandingkan dua matra lainnya.
Daya tangkal kekuatan udara tidak diragukan lagi keampuhannya, namun masalahnya pesawat tempur Angkatan Udara tidak dapat hadir 24 jam terus menerus di wilayah operasi. Ketahaanlamaan pesawat tempur pada dasarnya terbatas, meskipun sudah dibantu dengan pengisian bahan bakar di udara. Sebab selain pesawatnya, pengawaknya pun membutuhkan waktu istirahat. Tidak heran bila meskipun secara teori satu pesawat tempur mampu terbang 24 jam dengan bantuan pengisian bahan bakar di udara, namun pengawaknya maksimal cuma bisa 8 jam terbang.
Kapal perang sebagai sistem senjata Angkatan Laut merupakan pilihan yang terbaik untuk melaksanakan penangkalan. Sebab selain bisa hadir 24 jam setiap hari di wilayah operasi, pengawakannya yang puluhan personel memudahkan adanya pergantian waktu purba jaga. Ketahaanlamaannya di laut pun tidak diragukan, apalagi bila didukung oleh RAS dari kapal bantu.
Tidak sedikit negara di dunia mengandalkan instrumen penangkalannya pada Angkatan Laut. Terlebih lagi ketika pihak yang akan ditangkal secara geografis posisinya jauh dari negara yang ingin menangkal. Dengan kondisi seperti demikian, pilihan paling logis dan sekaligus murah jatuh pada Angkatan Laut dengan kapal perangnya.
Sebagai contoh, tidak sedikit negara yang khawatir dengan program nuklir Iran melaksanakan penangkalan terhadap Negeri Mullah itu dengan menyebarkan kapal perangnya ke Teluk Persia. Dalam kasus Iran, Angkatan Laut adalah pilihan pertama dan utama untuk menangkal Teheran. Pertanyaannya, seberapa paham pengambil keputusan di Indonesia tentang eksploitasi kekuatan Angkatan Laut sebagai instrumen penangkalan?

Tidak ada komentar: