Tampilkan postingan dengan label Latihan Angkatan Laut. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Latihan Angkatan Laut. Tampilkan semua postingan

29 Maret 2011

Menggagas Latihan Multinasional

All hands,
Indonesia dalam beberapa tahun terakhir mulai aktif berpartisipasi dalam latihan militer multinasional. Misalnya dalam AMAN Exercise, begitu pula dengan COBRA GOLD dan RIMPAC. Partisipasi demikian patut untuk diacungi jempol karena merupakan suatu kemajuan dibandingkan sebelumnya. Di masa lalu Indonesia terkesan tidak mau ikut dalam latihan militer multinasional, apalagi bila sponsornya adalah Amerika Serikat.
Terkait dengan hal tersebut, ada baiknya bila ke depan Indonesia bukan sekedar berpartisipasi dalam latihan militer multinasional, tetapi turut pula menggagas dan menjadi sponsor dari latihan serupa. Dengan kata lain, Indonesia membuat suatu latihan militer multinasional dengan melibatkan negara-negara kawasan. Latihan demikian akan mempunyai nilai politik dan non politik yang besar bagi Indonesia.
Nilai politik yaitu menunjukkan inisiatif Indonesia dalam menjaga stabilitas keamanan kawasan. Adapun nilai non politiknya adalah meningkatkan interaksi militer Indonesia dengan militer asing, selain meningkatkan profesionalisme kekuatan militer Indonesia. Kalau negeri ciprit seperti Singapura bisa menyelenggarakan latihan tahun Angkatan Laut yang bersifat multinasional di Laut Cina Selatan, mengapa Indonesia tidak bisa?
Tema latihan Angkatan Laut yang tersedia cukup luas dan banyak. Entah itu MCMEX, latihan penyelamatan kapal selam, latihan peperangan elektronika, HADR, NEO ataupun latihan tempur di laut dengan manuver berbagai jenis kapal perang seperti halnya dalam RIMPAC. Kalau soal dukungan anggaran bisa diajukan kepada Departemen Pertahanan. Soal anggaran sepertinya tidak sulit, toh latihan ini berdampak positif bagi Indonesia baik secara politik maupun profesionalisme Angkatan Laut. Belum terlambat bagi Indonesia untuk berinisiatif menggelar latihan Angkatan Laut multinasional.

19 Februari 2011

Latihan Perang Di Wilayah Potensi Konflik

All hands,
Dalam rangka mencegah konflik, banyak pendekatan dapat ditempuh. Pendekatan tersebut bukan sekedar diplomasi di dalam ruangan yang sejuk, tetapi bisa pula lewat latihan perang di tengah suhu udara yang tidak sejuk. Banyak negara yang menempuh pendekatan yang terakhir tanpa menutup pendekatan pertama. Indonesia hendaknya menempuh pula pendekatan yang demikian sebagai bagian dari upaya mendukung diplomasi di ruangan yang sejuk dan aneka makanan yang mengundang selera.
Sebagai contoh adalah potensi konflik di Laut Cina Selatan. Jakarta hendaknya tidak menghabiskan energi untuk mencegah konflik di perairan itu hanya lewat pendekatan diplomatik. Karena Jakarta juga memiliki kepentingan di perairan tersebut, Jakarta hendaknya juga menempuh pendekatan latihan militer di sekitar Kepulauan Natuna. Latihan yang digelar mirip yang dilaksanakan pada 1996, namun skenarionya harus lebih realistis. Misalnya, apakah masih patut skenario "membiarkan" musuh merebut wilayah Natuna terlebih dahulu baru kemudian melakukan pukulan balik?
Latihan perang di perairan Kepulauan Natuna dan sekitarnya tidak perlu dikhawatirkan akan menimbulkan eskalasi konflik di kawasan. Sebab latihan itu digelar dalam konteks untuk mengamankan kepentingan nasional Indonesia, baik yang di wilayah perairan teritorial maupun ZEE. Sebaliknya, latihan tersebut bukan kedok untuk menginvasi pulau atau wilayah tertentu di Laut Cina Selatan.
Latihan peran di sekitar Kepulauan Natuna, menurut hemat saya, perlu untuk digelar agar kekuatan Angkatan Bersenjata Indonesia tidak terlena atau terbuai hanya dengan "skenario Ambalat". Jangan sampai pintu depan dijaga, namun musuh masuk dengan pergerakan melambung.

07 Februari 2011

Partisipasi Dalam Latihan Angkatan Laut Multinasional

All hands,
Kekuatan laut Indonesia dalam Februari 2011 akan berpartisipasi dalam AMAN Exercise yang digelar oleh Angkatan Laut Pakistan dengan menyebarkan sebuah kapal perang. AMAN Exercise merupakan latihan Angkatan Laut multinasional yang diselenggarakan oleh Pakistan. Sebagian peserta latihan adalah Angkatan Laut negara-negara NATO yang tengah menggelar operasi di Samudera India, Laut Arab dan Teluk Persia. Partisipasi kekuatan laut Indonesia dalam AMAN Exercise adalah yang pertama kalinya.
Dalam kondisi saat ini, sebaiknya memang kekuatan laut Indonesia aktif berpartisipasi dalam latihan Angkatan Laut multinasional. Sebab interaksi itu akan membantu meningkatkan keterampilan personel Angkatan Laut dalam mengawaki sistem senjatanya. Dengan kondisi internal saat ini yang diwarnai oleh ketidakmerataan kesiapan sistem senjata, berpartisipasi dalam latihan multinasional merupakan pilihan cerdas dan bagus.
Melalui latihan itu, bisa diukur kemampuan Angkatan Laut negeri ini sekarang. Apabila ada kemampuan yang tertinggal dibandingkan Angkatan Laut negara lain, perlu dievaluasi seberapa jauh ketertinggalannya. Faktor apa saja yang menyebabkan hal itu terjadi. Bagaimanapun, awak kapal perang harus senantiasa berlatih untuk mempertahankan dan meningkatkan kemampuannya.
Selain AMAN Exercise, Indonesia juga terlibat dalam COBRA GOLD dan RIMPAC. Kedua latihan terakhir juga merupakan latihan Angkatan Laut multinasional. Ke depan, perlu dikaji kemungkinan Indonesia untuk menyebarkan pula kapal perangnya dalam dua latihan terakhir. Latihan-latihan demikian merupakan kesempatan emas bagi Angkatan Laut Indonesia untuk mengukur diri. Kekurangan yang ada menjadi pekerjaan rumah untuk diperbaiki.

01 November 2010

Latihan Kapal Selam Cina

All hands,
Tidak dapat dipungkiri bahwa Cina terus berupaya memperkuat kapabilitas Angkatan Lautnya dalam berbagai bentuk. Di samping pengadaan berbagai kapal perang baru, Cina berupaya pula meningkatkan kemampuannya dalam berbagai jenis peperangan. Termasuk di antaranya peperangan kapal selam seiring dengan ambisi kekuatan laut negeri tirai internet untuk bisa menenggelamkan kapal induk Amerika Serikat.
Terkait dengan hal tersebut, salah satu cara yang ditempuh oleh Angkatan Laut Cina adalah menggelar latihan dalam skenario nyata. Tanpa ragu-ragu, kapal selam Cina dituntut untuk bisa menembus konvoi kapal induk Amerika Serikat yang beroperasi di kawasan Pasifik Barat dalam latihannya. Singkatnya, setiap kapal selam Cina diharuskan bisa mampu menyusup dalam konvoi kapal induk Amerika Serikat untuk kemudian memunculkan diri ke permukaan. Selama ini, preseden demikian sudah beberapa kali terjadi.
Pola latihan kapal selam lainnya adalah menembus sistem deteksi bawah air di sekitar pangkalan Angkatan Laut Amerika Serikat di Jepang. Saat berhasil menembus, kapal selam selanjutnya muncul ke permukaan di wilayah perairan tepat di depan pangkalan tersebut. Preseden serupa telah terjadi pula beberapa kali.
Kekuatan laut Indonesia perlu mempertimbangkan pola-pola latihan yang dilaksanakan oleh Cina. Bukan tidak mungkin pola demikian dapat diadopsi, dengan pertimbangan ada keputusan dari pemimpin militer negeri ini. Ada berbagai keuntungan dengan mengadopsi pola latihan demikian, di antaranya meningkatkan deterrence kapal selam Indonesia terhadap negara-negara lain di kawasan. Soalnya calon "korban" cukup banyak tersedia, entah itu kekuatan laut Negeri Tukang Klaim, kekuatan laut negeri penampung koruptor atau bahkan kekuatan laut negeri penindas Aborigin.

02 Oktober 2010

Latihan Angkatan Laut Ajang Pengiriman Pesan

All hands,
Latihan perang Angkatan Laut merupakan salah satu cara untuk mengirim pesan secara politik dan militer kepada calon lawan atau pihak yang berpotensi menjadi lawan. Oleh karena itu, skenario yang dilatihkan pun adalah skenario terpilih. Maksudnya, skenario yang dirancang disesuaikan dengan kemungkinan jenis peperangan yang akan dipilih oleh calon lawan atau berpotensi menjadi lawan tersebut.
Apabila ancaman terbesar pada tingkat taktis adalah kapal selam, maka skenario yang mendapat perhatian utama ialah anti peperangan kapal selam. Pengembangan skenario itu sama sekali tidak mengabaikan ancaman peperangan lainnya, termasuk peperangan udara. Dengan mendesain skenario yang realistis, maka latihan yang digelar pun akan mendekati kenyataan sesungguhnya apabila terjadi konflik. Pada akhirnya, pesan politik dan militer pun bisa tercapai apabila lokasi latihan dipilih secara cermat dan tepat.
Hal seperti ini perlu dikembangkan di Indonesia. Sebaiknya dipilih skenario utama apa yang akan "dimainkan" dalam latihan perang Angkatan Laut. Artinya, tidak semua skenario harus "dimainkan". Misalnya, apakah perlu "memainkan" skenario operasi amfibi apabila latihan yang digelar adalah menghadapi ancaman konflik di sekitar Natuna. Kecuali apabila kita masih bertahan dengan premis bahwa kekuatan laut dikerahkan untuk merebut kembali wilayah Indonesia yang sudah diduduki oleh lawan.
Ke depan, hendaknya premis itu dikesampingkan untuk sementara dan selanjutnya mari berpikir out of the box. Tanpa berpikir demikian, skenario yang "dimainkan" akan kembali skenario copy and paste dari puluhan latihan sebelumnya. Sudah waktunya "penyakit" copy and paste dihilangkan dalam tubuh kekuatan laut Indonesia.

22 Januari 2010

Latihan Perang Angkatan Laut Terintegrasi

All hands,
Mengacu pada teori Geoffrey Till, kekuatan maritim suatu bangsa merupakan gabungan dari kekuatan Angkatan Laut, armada niaga dan lain sebagainya. Angkatan Laut merupakan inti dari kekuatan maritim suatu bangsa. Namun demikian, peran kekuatan armada niaga tidak dapat diabaikan dalam rangka mendukung Angkatan Laut.
Selama ini, latihan puncak Angkatan Laut yang bersandi Armada Jaya hanya melibatkan unsur-unsur Angkatan Laut saja. Pelibatan tersebut bisa jadi benar, sebab Latihan Armada Jaya adalah barometer untuk melihat dan menilai hasil-hasil pembinaan yang dilaksanakan terhadap unsur-unsur Angkatan Laut, baik kapal perang, pesawat udara, Marinir maupun pangkalan. Akan tetapi dari perspektif lain, sudah saatnya bila Latihan Armada Jaya ke depan sebaiknya melibatkan pula unsur-unsur armada niaga.
Hal itu penting untuk membiasakan para pelaut yang mengawaki armada niaga berinteraksi secara nyata di laut dengan para sejawatnya yang mengawaki kapal perang. Keterlibatan armada niaga dalam Latihan Armada Jaya bisa disisipkan pada unsur Subkogasgab Ratmin Angkatan Laut. Dengan terlibat langsung dalam latihan, para pelaut niaga dapat diajari bagaimana bermanuver di laut dalam suatu konvoi bersama kapal-kapal perang Angkatan Laut. Ilmu dan pengalaman latihan demikian penting apabila suatu saat nanti Angkatan Laut atas nama negara membutuhkan dukungan dari armada niaga dalam mendukung operasi yang akan digelar.
Untuk bisa melaksanakan manuver bersama di laut, tentu para pelaut armada niaga harus diajari dulu teori-teori operasi laut khususnya yang berkaitan dengan operasi yang akan mereka ikuti nantinya. Artinya, interaksi yang rutin dalam ruang kelas yang sama antara antara para pelaut pengawak kapal perang dengan sejawatnya pengawak kapal niaga harus senantiasa dilaksanakan. Tanpa itu sulit untuk bisa langsung mengajak mereka ikut dalam manuver di laut dalam latihan bersama.
Pola seperti ini sudah lama dilaksanakan oleh Angkatan Laut negara-negara lain, seperti Amerika Serikat, Inggris dan Prancis. Indonesia hendaknya tidak ketinggalan soal ini, sebab di masa lalu beberapa operasi dan atau kampanye militer melibatkan partisipasi unsur armada niaga dalam jumlah yang tidak sedikit. Di masa depan, sangat mungkin preseden itu akan kembali terulang.

20 Juli 2009

Penentuan Lokasi Latihan Perang

All hands,
Latihan perang bagi kekuatan militer, termasuk Angkatan Laut merupakan kegiatan rutin untuk menguji taktik, strategi, sistem senjata, keterampilan personel dan lain sebagainya. Latihan perang seperti Armada Jaya merupakan puncak latihan yang didahului oleh latihan-latihan pada tingkat yang lebih rendah pada berbagai satuan atau Kotama mulai dari L-1 sampai L-4. Selain Armada Jaya, ada pula latihan perang gabungan yang melibatkan unsur AL dengan AU yakni Latgabla. Latihan lainnya adalah Lathanud Perkasa di bawah Kohanudnas yang juga melibatkan unsur-unsur AL, di samping tentunya Latgab TNI yang jauh lebih besar.
Dari semua latihan itu, ada baiknya bila kita perhatikan lokasi di mana latihan dilaksanakan. Penentuan lokasi latihan hendaknya senantiasa memperhatikan kondisi lingkungan keamanan yang terkait dengan kepentingan nasional Indonesia, bukan memperhatikan “rasa tidak enak” terhadap negara lain. Selama ini terkesan bahwa penentuan lokasi latihan perang berskala besar seringkali sangat mempertimbangkan “rasa tidak enak” terhadap negara lain di sekitar Indonesia.
Sebagai contoh, Latgab TNI 2008 meskipun digelar di perairan Kalimantan Timur namun posisinya masih ratusan mil laut dari wilayah sengketa Laut Sulawesi. Kenapa tidak di dekat wilayah sengketa sekalian? Yang penting adalah adanya pemberitahuan sejak awal kepada militer Negeri Tukang Klaim bahwa Indonesia ingin latihan di perairan sekitar Tarakan-Nunukan.
Indonesia sepertinya terlalu memperhatikan perasaan “tidak enak” terhadap negara lain daripada kepentingan nasionalnya sendiri. Sementara negara-negara lain ketika menggelar latihan perang tidak demikian terhadap Indonesia. Mereka cuma memberitahukan lewat saluran resmi sejak jauh-jauh hari bahwa pada tanggal sekian sampai tanggal sekian kami akan latihan perang di wilayah x.
Bagian dari Latgab TNI 2008 yang “agak berani” cuma latihan di Batam, itu pun kekuatan yang dikerahkan tidak semaksimal di perairan Kalimantan Timur. Mengapa demikian? Jawabannya lagi-lagi “rasa tidak enak”. Itu penyakit psikologis politik yang menjangkiti bukan saja pada domain militer, bahkan pada domain pemerintahan juga.
Penentuan lokasi latihan perang harus didasarkan pada kepentingan nasional Indonesia, bukan memperhatikan perasaan negara di sekitar Indonesia. Kalau kepentingan nasional Indonesia menganggap pentingnya pertahanan di wilayah selatan, kenapa tidak berani menggelar latihan perang mulai dari Selat Lombok terus ke wilayah timur sampai ke Selat Torres. Apakah memperhatikan perasaan Australia selaras dengan kepentingan nasional Indonesia?
Idealnya, penentuan lokasi latihan perang melibatkan aparat pemerintah seperti Departemen Pertahanan dan Departemen Luar Negeri. Namun kondisi saat ini sepertinya menjadi meragukan apakah keduanya sudah bebas dari penyakit psikologis politik khas Indonesia atau tidak? Ataukah malah jajaran yang lebih atas juga mengidap penyakit yang sama?

22 Oktober 2008

Partisipasi Dalam Latihan Bersama

All hands,
Salah satu bentuk interaksi antar Angkatan Laut adalah melalui latihan bersama, baik bilateral maupun multilateral. Latihan bersama Angkatan Laut mencerminkan bukan saja tingkat hubungan antar Angkatan Laut, tetapi juga antar negara. Namun tesis ini belum tentu berlaku di Indonesia yang kebijakan luar negerinya tidak jelas.
Sampai saat ini, belum ada panduan yang jelas mengenai latihan apa yang bisa diikuti oleh Angkatan Laut dan mana yang tidak boleh diikuti. Panduan itu semestinya ada, karena Departemen Pertahanan secara garis besar telah memberikan lampu hijau latihan bersama dengan negara-negara lain. Panduan itu idealnya merupakan “kesepakatan” antara kebijakan pertahanan dengan kebijakan luar negeri.
Sangat disayangkan selama ini panduan itu tidak ada. Akibatnya bagi Angkatan Laut, kadang tidak jelas mana latihan yang boleh diikuti, mana yang tidak. Sebagai contoh, bagaimana sikap Departemen Luar Negeri terhadap partisipasi Angkatan Laut dalam latihan multilateral? Tahun 2008, salah satu latihan multilateral yang kita ikuti adalah RIMPAC 2008 Exercise, di mana kita kirim kekuatan untuk terlibat aktif. Jadi bukan sekedar jadi pengamat.
Akar masalah dari semua itu adalah tidak padunya antara kebijakan pertahanan dan kebijakan luar negeri. Hal itu berimbas terhadap Angkatan Laut dalam interaksinya dengan mitranya di luar negeri. Sampai kapan ketidakpaduan itu akan terus berlangsung? Mungkin sampai ada pemerintahan yang berani rumuskan strategi keamanan nasional.

18 Agustus 2008

Skenario Latihan Di Lokasi Fiktif

All hands,
Dalam skenario latihan yang dilaksanakan selama ini, baik sebatas Oyu/Olah Yudha (war games) maupun pada gladi posko (command post exercise) maupun gladi lapang (field training exercise), selalu saja lokasi geografis wilayah latihan adalah wilayah nyata di negeri kita. Contoh yang paling kasat mata adalah Latgab TNI 2008, yang jelas-jelas dalam skenarionya menyatakan bahwa wilayah operasinya adalah di Kalimantan Timur. Saya nggak mau gunakan istilah mandala, karena mandala yang dalam terminologi militer asing padanannya adalah theater merupakan suatu wilayah operasi yang sangat luas. Sebagai contoh adalah waktu pembebasan Irian Barat, wilayah mandalanya mencakup seluruh Indonesia Timur mulai dari Pulau Sulawesi.
Padahal kalau kita bandingkan dengan skenario latihan militer negara-negara lain, selalu saja mereka membuat lokasi fiktif. Misalnya dalam Cobra Gold 2008, negara wilayah sasaran latihan adalah suatu wilayah fiktif di sebelah tenggara Jepang yang dinamai Kepulauan Pasifica. Kepulauan Pasifica ini terdiri dari enam negara yaitu Sonora, Tierra Del Oro, Mojave, Kuhistan, Arcadia dan Isla Del Sol.
Lokasi fiktif ini dalam istilah di Angkatan Laut sering disebut dengan pulau timbul. Tantangannya dalam membuat pulau timbul adalah data-data geografis. Misalnya topografi dan hidrografinya seperti apa. Pantainya seperti apa, di bagian mana yang landai, di bagian mana yang curam dan lain sebagainya, dalam perairannya di tiap bagian pulau berapa, arus pasang surutnya bagaimana dan lain-lain.
Namun sebenarnya itu nggak sulit kok untuk membuatnya. Cara yang paling gampangkan adalah gabungkan saja data-data hidrografi dan topografi kita dari beberapa wilayah yang berbeda. Soal wilayah mana saja yang datanya diambil, itu rahasia para perencana latihan. Itu sekaligus dalam perencanaan latihan, mesti melibatkan rekan-rekan dari hidrografi dan topografi.
Bahkan mereka harus ditantang buat peta laut dan peta topografi wilayah fiktif itu. Mereka pasti bisa soal itu, karena memang mereka ahlinya. Kalau bikin PTG (peta tempur gabungan) untuk Pulau Natuna Besar saja bisa, yang ini juga bisa dong. Dengan punya lokasi fiktif/pulau timbul, kita nggak perlu lagi obral data-data hidrografi dan topografi kita dalam latihan.