31 Mei 2010

Integrasi Radar Pengamatan Maritim

All hands,
Indonesia telah membangun jaringan radar pengamatan di sepanjang pantai timur Sumatera yang terbentang dari Pulau Weh sampai dengan Pulau Batam. Beberapa stasiun radar pengamatan maritim tersebut didanai oleh pemerintah Indonesia, sedangkan sebagian besar sisanya merupakan bantuan dari pemerintah Amerika Serikat atau dikenal sebagai Project 1206. Selesainya pembangunan jaringan radar pengamatan maritim itu bukan berarti tuntasnya pekerjaan rumah bagi Indonesia, sebab pekerjaan rumah berikutnya adalah mengintegrasikan dua jaringan radar yang berbeda itu.
Kendala utama dalam integrasi tersebut bukan pada persoalan teknis seperti interface yang membutuhkan pembukaan kode-kode teknis dalam dua jaringan radar yang berbeda, tetapi pada kendala politik. Sebab untuk radar yang dibangun dengan bantuan dari Uwak Sam, diperlukan ijin dari Washington. Sejauh ini, soal ijin itu belum juga diberikan. Konon kabarnya, Amerika Serikat tidak mau adanya integrasi dua jaringan yang berbeda tersebut. Soal alasannya bisa ditebak sendiri.
Kondisi demikian bisa ditafsirkan secara sepihak akan ketidaktulusan Amerika Serikat membantu Indonesia dalam rangka meningkatkan kemampuannya dalam bidang keamanan maritim. Akan tetapi, kondisi itu sebaiknya tidak boleh dibiarkan terus berlangsung. Diperlukan lobi yang kuat dari pemerintah Indonesia, khususnya Departemen Pertahanan untuk mendapatkan persetujuan dari Washington integrasi Project 1206 dengan Proyek IA-IB bisa terwujud.

30 Mei 2010

Diplomasi Publik Angkatan Laut

All hands,
Terkait dengan peran diplomasi Angkatan Laut, salah satu bentuk diplomasi yang kini banyak dilaksanakan oleh Angkatan Laut negara-negara maju adalah diplomasi publik. Dalam diplomasi publik, yang dikedepankan adalah unsur-unsur soft meskipun kapal perang tetap saja ditampilkan. Misalnya lewat kegiatan kemanusiaan alias bakti sosial dan pertunjukan musik. Perhatikan kegiatan diplomasi publik yang rutin dilaksanakan oleh Angkatan Laut Amerika Serikat di Indonesia, misalnya lewat kegiatan Armada Ketujuh.
Diplomasi publik merupakan hal yang dianggap “ringan”, namun sesungguhnya dampak yang ditimbulkannya cukup “dahsyat”. Dampaknya adalah persepsi publik yang menjadi sasaran diplomasi terhadap Angkatan Laut yang melakukan diplomasi. Lihatlah bagaimana cara Armada Ketujuh Amerika Serikat untuk membangun persepsi publik negara-negara lain terhadapnya dengan melakukan pertunjukan musik yang dilaksanakan oleh Band Armada Ketujuh.
Band tersebut tampil sebagai band profesional dan bukan sekedar personel berseragam Angkatan Laut yang diperintahkan bermain band. Pertunjukkan mereka mau memukau para penonton, termasuk pula kalangan yang paham dengan musik. Meskipun mereka band militer, akan tetapi penampilan mereka bisa disandingkan dengan band-band profesional lainnya.
Musik adalah “bahasa” universal yang bisa dipahami oleh siapa saja, mampu menyeberangi perbedaan bahasa dan dapat menembus ketidaksamaan persepsi. Itulah alasan mengapa Angkatan Laut Amerika Serikat senantiasa memelihara dan memberdayakan satuan musik-satuan musik mereka, sebab satuan musik adalah salah satu sarana diplomasi publik. Lewat musik, mereka ingin menampilkan sisi lain dari kekuatan laut Amerika Serikat, bahwa Angkatan Laut Broer Sam bukan sekedar citra sebagai mesin pembunuh paling efektif di dunia.
Lalu bagaimana dengan Indonesia?

29 Mei 2010

Angkatan Laut Dan Cetak Biru Kekuatan Udara Nasional

All hands,
Angkatan Laut negeri ini adalah unsur dari kekuatan udara nasional, sebab Angkatan Laut mempunyai pula kekuatan udara. Kekuatan udara nasional bukan saja terdiri dari pesawat udara milik ketiga matra militer negeri ini, tetapi mencakup pula pesawat-pesawat milik sipil yang terdaftar di Indonesia. Khusus untuk kekuatan udara ketiga matra militer Indonesia, dibutuhkan suatu cetak biru yang memadukan kemampuan ketiga unsur.
Mengapa dibutuhkan cetak biru? Sebab operasi militer saat ini kecenderungannya adalah operasi gabungan, bukan lagi operasi matra tunggal. Oleh karena itu, interoperability kekuatan udara ketiga matra seharusnya tercipta. Untuk menuju hal tersebut, diperlukan cetak biru kekuatan udara nasional tersebut.
Boleh saja pesawat udara yang memperkuat kekuatan udara Angkatan Laut berbeda spesifikasi dan kemampuannya dengan yang memperkuat kekuatan udara Angkatan Darat dan Angkatan Udara. Namun ketiganya harus bisa interoperable ketika dibutuhkan. Misalnya, pesawat tempur Angkatan Udara harus dapat berkomunikasi dengan pesawat patroli maritim Angkatan Laut melalui frekuensi khusus sehingga dapat saling mendukung dalam suatu operasi gabungan.
Di negara-negara lain seperti Amerika Serikat, Inggris dan lain sebagainya, interoperability antar kekuatan udara tiap matra sudah disusun dengan matang. Sehingga setiap jenis pesawat yang berbeda dapat beroperasi bersama dalam suatu operasi gabungan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Negara-negara itu mempunyai cetak biru kekuatan udara nasionalnya, khususnya kekuatan udara militer.
Indonesia sudah seharusnya menempuh kebijakan serupa pula. Agar tidak terjadi persaingan tidak sehat, Departemen Pertahanan hendaknya menjadi ujung tombak dari penyusunan cetak biru tersebut.

28 Mei 2010

Sejarah Angkatan Laut

All hands,
Di negara-negara maju, sejarah Angkatan Laut tidak dipandang sebelah mata. Sejarah Angkatan Laut bukan semata soal catatan-catatan penting kejadian dalam suatu Angkatan Laut. Sejarah Angkatan Laut bukan pula sekedar kumpulan arsip tua yang diawetkan, tidak juga hanya sebuah catatan soal peristiwa-peristiwa membanggakan atau aksi kepahlawan. Sejarah Angkatan Laut adalah sumber inspirasi dan pelajaran dalam pengembangan Angkatan Laut ke depan, apapun yang terjadi pada organisasi Angkatan Laut di masa lalu.
Pengembangan doktrin Angkatan Laut senantiasa berakar pada sejarah. Bukan berarti doktrin Angkatan Laut bersifat kaku, tetapi lebih menekankan pada pelajaran yang bisa diambil dari sejarah Angkatan Laut di masa lalu. Misalnya pengalaman operasi. Doktrin Angkatan Laut yang senantiasa diperbarui seringkali mengambil pelajaran dari operasi yang “baru” berlangsung 10-15 tahun silam, bukan operasi 50 tahun silam apalagi seabad lalu.
Para ahli sejarah Angkatan Laut biasanya juga ahli strategi maritim. Sebagai contoh klasik lihat saja Julian Corbett yang keahlian dasarnya adalah sejarah maritim. Corbett tidak pernah menjadi komandan kapal perang, berbeda dengan Mahan yang berlatar belakang perwira Angkatan Laut. Ahli sejarah Angkatan Laut di negara-negara maju sangat dihargai, bahkan mereka adalah salah satu tulang punggung dalam lembaga pendidikan Angkatan Laut, khususnya lembaga pendidikan setingkat Sesko Angkatan Laut.
Kepakaran mereka dalam menguasai sejarah Angkatan Laut tidak diragukan lagi, bahkan melebihi para perwira Angkatan Laut sendiri. Merekalah yang mengajar para perwira Angkatan Laut soal sejarah Angkatan Laut dan juga strategi maritim. Keahlian mereka tidak lepas pula dari kontribusi Angkatan Laut di mana mereka mengabdi, misalnya dalam menyediakan data yang detail mengenai segala hal yang terkait Angkatan Laut. Entah itu operasi, perubahan organisasi, pembangunan kekuatan (di masa lalu) dan lain sebagainya.
Alangkah baiknya bila kekuatan laut Indonesia mengadopsi pendekatan yang dianut oleh Angkatan Laut negara-negara maju yang terkait dengan sejarah. Dengan demikian, selain semua peristiwa penting tercatat dan arsipnya lengkap, juga dapat menjadi landasan bagi pengembangan Angkatan Laut ke depan. Belajar soal sejarah bukan semata mempelajari peristiwa yang telah lewat, tetapi juga mempersiapkan masa depan Angkatan Laut. Bukankah ada pepatah yang berbunyi history repeats itself?

27 Mei 2010

Kemajuan Ekonomi Dan Pembangunan Angkatan Laut

All hands,
Mengacu pada sejarah berbagai Angkatan Laut di dunia, pembangunan kekuatan Angkatan Laut dipastikan akan selalu melalui dua fase. Fase pertama adalah fase pertumbuhan, yaitu terhitung sejak Angkatan Laut dibentuk. Ketika berada pada tahap ini, biasanya tanggungjawab utama Angkatan Laut adalah mempertahankan wilayah dan kedaulatan negara yang bersangkutan menghadapi ancaman nyata saat itu. Sebagian besar Angkatan Laut di dunia melalui fase ini ---termasuk Angkatan Laut Indonesia---, kecuali beberapa Angkatan Laut yang lahir dalam kondisi abnormal, misalnya Angkatan Laut Negeri Tukang Klaim.
Fase kedua adalah fase pendewasaan. Pada tahap ini, Angkatan Laut sudah hidup dalam ruang yang lebih baik, dalam arti negara pemilik Angkatan Laut itu telah menyelesaikan fase perjuangan kemerdekaan atau sejenisnya, sehingga langkah selanjutnya adalah pembangunan di segala bidang. Salah satu pembangunan yang dipacu oleh setiap negara adalah di bidang ekonomi, sebab bidang ini berkaitan langsung dengan kesejahteraan rakyat. Berbicara tentang ekonomi, interdependensi ekonomi dengan negara-negara lain menjadi suatu hal yang tidak terhindarkan.
Terkait dengan fase ini, banyak Angkatan Laut di dunia mengalami pembangunan kekuatan yang signifikan. Banyak negara di dunia merancang Angkatan Lautnya untuk mampu beroperasi jauh dari negara induknya untuk mengamankan kepentingan nasionalnya, termasuk yang terkait dengan bidang ekonomi. Dengan kata lain, Angkatan Laut didesain untuk mampu beroperasi jarak jauh alias blue water navy.
Pertanyaannya, kapan Indonesia akan merancang kekuatan lautnya memasuki tahap pendewasaan? Apakah menunggu embargo minyak dari Timur Tengah yang dilakukan oleh negara-negara lain? Atau setidaknya menunggu arus pasokan minyak dari Asia Barat terancam?

26 Mei 2010

Tugas Utama Kapal Selam

All hands,
Setiap Angkatan Laut yang mempunyai kapal selam dalam susunan tempurnya dihadapkan pada satu pertanyaan bersifat taktis, yaitu apakah tugas kapal selam mereka untuk peperangan anti kapal selam ataukah peperangan anti kapal permukaan? Secara teoritis dan praktek, kapal selam mempunyai kemampuan guna melaksanakan dua kemampuan tersebut, Akan tetapi, dalam prakteknya mayoritas Angkatan Laut menetapkan satu tugas yang lebih dominan pada armada kapal selam mereka.
Kalau tugas utama unsur kapal selam pada suatu armada Angkatan Laut adalah untuk anti peperangan kapal selam, eksistensi kapal selam itu harus diimbangi oleh oleh sejumlah kapal permukaan, pesawat patroli maritim dan helikopter yang menyandang kemampuan anti kapal selam pula. Bila tidak ada perimbangan antara unsur kapal selam dengan unsur-unsur lainnya, yang terjadi adalah Angkatan Laut tersebut tidak mempunyai kemampuan yang mumpuni dalam bisnis peperangan anti kapal selam. Sebaliknya, Angkatan Laut tersebut secara desain atau tidak telah menempatkan unsur kapal selamnya untuk berfokus pada peperangan anti kapal permukaan.
Berdasarkan uraian singkat ini, bisa direka di mana sebenarnya posisi kekuatan kapal selam Indonesia saat ini. Apakah tugas utamanya untuk peperangan anti kapal selam ataukah peperangan anti kapal permukaan. Sekaligus menjadi pekerjaan rumah untuk membenahi kemampuan peperangan kapal selam ke depan agar lebih baik daripada kondisi saat ini.

25 Mei 2010

Syarat Lain Operasi Angkatan Laut Jarak Jauh

All hands,
Operasi Angkatan Laut jarak jauh yang digolongkan sebagai proyeksi kekuatan mempunyai beberapa persyaratan. Masalah dukungan logistik adalah salah satu persyaratan yang mengemuka dan sering dibahas, sebab tanpa dukungan logistik yang memadai maka operasi yang digelar akan gagal mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Di samping dukungan logistik, persyaratan lainnya yang wajib untuk diperhatikan adalah kemampuan peperangan anti kapal selam.
Dalam melaksanakan operasi Angkatan Laut jarak jauh, ancaman kapal selam merupakan ancaman yang paling tinggi derajatnya dibandingkan ancaman kapal permukaan maupun pesawat udara. Dua ancaman terakhir bisa dideteksi dari jarak puluhan atau ratusan mil laut dari kapal ---tergantung sistem sensor yang diadopsi---, sedangkan ancaman kapal selam bahkan pada jarak hanya di bawah 10 mil laut pun belum tentu mampu dideteksi. Itulah alasan mengapa ancaman kapal selam menempati derajat tertinggi dalam pelaksanaan operasi Angkatan Laut jarak jauh.
Di kawasan Asia Pasifik, Angkatan Laut yang sudah mampu beroperasi jarak jauh adalah Australia, Jepang, Korea Selatan dan Cina. Di kawasan Samudera India satu-satunya Angkatan Laut yang mampu menggelar operasi itu adalah kekuatan laut India. Pertanyaannya, seberapa tinggi kemampuan mereka dalam hal peperangan anti kapal selam? Untuk menjawab pertanyaan itu, ada beberapa parameter yang bisa digunakan. Di antaranya adalah perimbangan aset untuk peperangan permukaan dan peperangan kapal selam.
Apabila dinilai secara garis besar, kemampuan Angkatan Laut Korea Selatan, Cina dan India dalam soal peperangan anti kapal selam masih rendah. Artinya kemampuan mereka melaksanakan proyeksi kekuatan belum ditunjang dengan kemampuan peperangan anti kapal selam yang mumpuni. Adapun Angkatan Laut Australia dan Jepang memiiki kemampuan yang lebih baik? Lalu bagaimana dengan Indonesia?