09 Mei 2009

Belajar Dari Australia

All hands,
Materi Defending Australia In The Asia Pacific Century: Force 2030 yang komprehensif dari kebijakan sampai dengan pembangunan kekuatan patut dicontoh oleh Indonesia dalam menyusun dokumen serupa. Meskipun dalam Buku Putih Pertahanan Indonesia 2008 penyusunannya sudah dicoba seperti Australia, namun ternyata masih jauh dari harapan. Mengapa demikian?
Sebab Departemen Pertahanan Indonesia mempunyai kendala sumber daya manusia dalam menyusun Buku Putih Pertahanan maupun tiga dokumen strategis lainnya. Tidak heran bila antara satu dokumen dengan dokumen lainnya mengalami ketidaksinkronan, misalnya soal hubungan antara strategi dengan postur.
Sumber daya manusia di Indonesia yang mumpuni dalam bidang kebijakan dan strategi pertahanan masih sangat sedikit. Termasuk pula di Departemen Pertahanan. Memang ada sekelompok orang yang oleh media massa dinobatkan sebagai pengamat militer. Tetapi berdasarkan pengalaman saya pribadi berinteraksi dengan mereka, kesimpulan saya ilmu mereka masih cetek. Apa yang mereka ketahui cuma di permukaan saja, tidak mendalam. Begini sudah masuk wilayah yang memerlukan kalkulasi teknis terkait kebijakan dan strategi pertahanan, mereka malah berupaya mengorek ilmu saya. He...he...he...
Sebagian pihak boleh berbangga bahwa sekarang sebuah perguruan tinggi negeri di Bandung memiliki jurusan terkait pertahanan. Namun berdasarkan penilaian saya dan juga beberapa rekan lain, yang dipelajari di sana ilmu soal pengadaan. Jadi belajarnya sangat teknis sekali, tetapi strateginya nol.
Kemudian ada keinginan kuat dari Departemen Pertahanan untuk mendirikan sebuah perguruan tinggi yang mirip dengan NDU di Amerika Serikat. Boleh-boleh saja, tetapi saya agak pesimistis soal kualitas. Karena sebagian pengajarnya pasti adalah "pengamat militer' yang kualitasnya sudah saya ceritakan sebelumnya.
Lalu bagaimana solusinya agar negeri ini suatu saat mempunyai Buku Putih Pertahanan yang komprehensif seperti kepunyaan Negeri Kangguru? Menurut hemat saya, individu-individu yang selama ini tersebar di "beberapa tempat", secara intelektualitas (ilmu pertahanan) lebih menonjol, dari segi kepangkatan masih ciprit, tidak punya popularitas di publik seperti halnya "pengamat militer", perlu diidentifikasi oleh Departemen Pertahanan. Setelah diidentifikasi, mereka harus dibina.
Departemen Pertahanan mempunyai kewajiban mempersiapkan sumber daya manusinya di masa depan. Oleh sebab itu membina individu-individu yang mampu dalam hal pertahanan adalah kewajibannya. Hanya dengan begitu kita bisa keluar dari lingkaran setan selama ini.

Tidak ada komentar: