29 Oktober 2008

Center of Economic Gravity

All hands,
Dalam menangani ancaman keamanan maritim saat ini, kita perlu memahami apa sasaran para perpetrators itu. Perpetrators yang dimaksud di sini lebih banyak didominasi oleh aktor non negara, baik teroris maupun kelompok lainnya. Pasca serangan terhadap USS Cole (DDG-67) pada 12 Oktober 2000, sasaran perompakan, pembajakan dan terorisme maritim bukan lagi pada kapal perang, tapi pada kapal-kapal niaga.
Kapal-kapal niaga itu merupakan urat nadi ekonomi dunia. Ekonomi dunia saat ini sudah terintegrasi dalam bingkai globalisasi. Artinya, serangan terhadap kapal-kapal niaga sama dengan serangan terhadap ekonomi dunia. Ekonomi dunia bisa mengalami guncangan karena serangan itu. Dengan kata lain, center of gravity saat ini berada pada aspek ekonomi.
Dibandingkan dengan sasaran militer seperti kapal perang, kapal niaga merupakan sasaran lunak yang gampang untuk diserang dan dilumpuhkan. Terkait dengan itu, sebagian Angkatan Laut di dunia memiliki tugas untuk melindungi SLOC. Perlindungan SLOC termasuk pula di dalamnya perlindungan terhadap perdagangan dunia lewat laut.
Lalu bagaimana dengan Indonesia? Dengan kondisi saat ini, kita nggak perlu muluk-muluk. Yang penting kita harus amankan perairan yurisdiksi kita yang menjadi jalur hidup bangsa ini dan bangsa lain. Baik ALKI maupun non ALKI.
Kemampuan untuk mengamankan perairan kita sendiri adalah tantangan bagi kita. Kelihatannya gampang, tapi dalam prakteknya sulit. Karena bila ditarik dari atas ke bawah, garisnya memanjang dari pemerintah, DPR hingga sampai ke AL kita. Kemampuan kita mengamankan garis perhubungan laut di wilayah Indonesia secara langsung atau tidak langsung berarti berkontribusi terhadap stabilitas keamanan kawasan.
Dan sekaligus turut menjaga agar tidak mencegah pengangguran di dalam negeri akibat PHK, karena gejolak ekonomi dunia akibat ancaman keamanan maritim dapat merambat hingga ke mereka. Ancaman terhadap center of economic gravity mempunyai korelasi pula dengan kesinambungan ekonomi dan industri Indonesia.

Tidak ada komentar: