24 Juni 2008

Akses dan Selat-selat Strategis

All hands,
Satu dari empat komponen geopolitik kekuatan laut adalah access and strategic straits. Nggak usah diragukan, kita punya itu. Sekarang tantangannya bagaimana kita manfaatkan/eksploitasi komponen itu untuk kepentingan nasional melalui aplikasi strategi maritim. Bagaimana akses dan selat-selat strategis itu kita manfaatkan untuk kembangkan strategi anti akses. Soal strategi anti akses, seorang rekan saya sudah pernah ulas secara mendalam dalam taskapnya ketika “bertapa” sepuluh bulan di Cipulir beberapa tahun lalu.
Pertanyaan pertama, apa tujuan (ends) kita kembangkan strategi anti akses? Tujuannya sebagai counter terhadap pihak-pihak yang mengganggu kepentingan nasional kita, khususnya dalam bentuk kekuatan militer di laut. Jadi target strategi ini tidak ditujukan ke negara tertentu saja seperti yang mungkin dipersepsikan sebagian pihak, tapi terhadap semua negara yang punya kepentingan di perairan yurisdiksi Indonesia.
Kalau begitu, akan masuk ke pertanyaan kedua. Apa sarana (means) yang dibutuhkan untuk kembangkan strategi anti akses. Sarananya sebenarnya sudah ada semua kok. Kita punya ranjau, rudal jelajah, kapal selam dan kapal jenis KCR-KCT. Kecuali ranjau yang jumlahnya ribuan di arsenal, jumlah rudal jelajah, kapal selam dan KCR-KCT kita belum cukup.
Pertanyaan ketiga, di mana kekuatan itu akan digelar? Sesuai dengan namanya sebagai strategi anti akses, kita harus gelar itu di selat-selat strategis dan chokepoints. Tempat-tempatnya banyak dan sebagian nama tempatnya kurang familiar di telinga masyarakat Indonesia yang sebagian besar kontinentalis.
Soal strategi anti akses mendapat perhatian besar dari Amerika Serikat, juga Australia. Amerika Serikat cukup concern dengan penyebaran rudal jelajah seperti C-802, Yakhont, Sunburn dan sejenisnya. Itu baru rudal. Belum lagi ranjau laut yang penyebarannya lebih mudah. Washington juga concern dengan penyebaran kapal selam Kilo dan sekelasnya ke negara-negara berkembang yang tidak sejalan dengan dia secara politik.
Perlu diketahui bahwa U.S. Navy pernah beberapa kali jadi korban strategi anti akses. Sebagian besar di Teluk Persia (orang Barat mulai rajin sosialisasikan sebagai Teluk Arab/Arabian Gulf), misalnya USS Stark (FFG-31) yang dihantam Exocet Irak 17 Maret 1987, USS Tripoli (LPH-10) kena ranjau pada 18 Februari 1991, USS Princeton (CG-59) pada tanggal yang sama dengan insiden USS Tripoli, cuma waktu dan koordinat lokasi kejadiannya beda.
Mari sekarang kita kaitkan dengan pembangunan kekuatan AL kita. Sepanjang pengetahuan saya, upaya bangkuat AL kita terus mendapat perhatian dari negara-negara yang berkepentingan dengan akses terhadap perairan Indonesia. Rencana beli Kilo sempat bikin heboh kawasan. Rencana beli Yakhont mendapat perhatian cukup besar dari para pengguna. Kita beli C-802 melahirkan concern dari para pengguna juga.
Untuk menghalangi hal itu, dimainkanlah invisible hand. Invisible hand itu ada di mana-mana. Bisa di Lapangan Banteng, bisa di Merdeka Barat. Bisa juga di Merdeka Utara. Pergantian pimpinan AL beberapa waktu lalu juga karena invisible hand itu.
Pesannya adalah dibutuhkan komitmen seluruh bangsa untuk bangun AL kita. Percuma kita warga AL ingin bangun kekuatan, kalau tidak didukung oleh komponen lainnya dari bangsa ini. AL kita yang kuat di kawasan bukanlah keinginan pihak lain, karena itu skenario buruk buat mereka.

Tidak ada komentar: