18 Agustus 2010

Ketika Kepentingan Nasional Menjadi Subordinat Soft Power

All hands,
Peristiwa yang memalukan bangsa Indonesia yang dilakukan oleh pihak sipil yang tidak pantas terjun ke laut di Tanjung Berakit adalah bukti nyata betapa soft power yang selama ini dipuja dan diimplementasikan oleh pihak tertentu di Indonesia ternyata mandul sama sekali. Hal itu makin menunjukkan kebenaran bahwa ambisi membangun soft power Indonesia dengan menegasikan kekuatan Angkatan Laut bagaikan pungguk merindukan bulan. Negeri Tukang Klaim tidak takut dengan soft power Indonesia sebab soft power yang dibangun Indonesia hanya mengutamakan dialog dan harmoni. Sebaliknya, pengambil keputusan di Indonesia nampaknya tidak berani melakukan disharmoni meskipun kepentingan nasional Indonesia sudah dirugikan.
Dengan kata lain, kepentingan nasional Indonesia yang bersifat major boleh-boleh saja dikorbankan demi pencapaian soft power. Tak sulit untuk menarik kesimpulan bahwa kepentingan nasional Indonesia saat ini terkesan merupakan subordinasi dari soft power. Kalau kita jeli membaca konstitusi negeri ini, jelas tindakan demikian bertentangan dengan konstitusi. Kini Indonesia lebih mengutamakan harmoni dengan negara-negara lain daripada mengedepankan kepentingan nasionalnya. Bangsa ini nampak sudah tidak punya harga diri lagi, sehingga mau saja melakukan barter tahanan. Celakanya, para diplomat yang hidup di menara gading nampaknya menganggap barter tahanan itu merupakan sebuah prestasi diplomatik.
Kalau sudah begini, menjadi lebih jelas dan terang benderang mengapa pembangunan kekuatan laut negeri ini terus mendapat hambatan. Bahkan dibandingkan dengan saudara Angkatan Laut yang tugas pokoknya mengamankan kepentingan nasional yang terkait dengan domain udara, pembangunan kekuatan laut tertinggal. Mungkin terlalu berlebihan, namun sulit menghindari kesan bahwa prioritas pada soft power memang benar-benar menegasikan pembangunan kekuatan laut. Negeri ini secara alamiah adalah macan, tetapi kini sifat yang ada pada macan itu tengah diubah untuk menjadi kucing dengan soft power.

1 komentar:

Dedi mengatakan...

yah...mas.. namanya juga indonesia... masih diinjek kakinya aja katanya masih sabar dan tenang... baru kalo kepalanya yang diinjek.. keburu ancur indonesia!! hidup pemimpin2 bangsa kita...