21 Maret 2010

Meragukan Ambisi Kapal Selam Australia

All hands,
Pengadaan 12 kapal selam konvensional baru bagi RAN untuk menggantikan enam kapal selam diesel elektrik kelas Collins telah dinyatakan dalam Buku Putih Pertahanan Australia 2009 dan dijabarkan secara rinci Defence Capability Plan. Pertanyaannya, realistiskah pengadaan 12 kapal selam itu dikaitkan dengan kondisi dan kemampuan Australia saat ini? Guna menjawab pertanyaan tersebut, ada beberapa hal yang harus ditinjau.
Pertama, aspek anggaran. Menurut perkiraan Andrew Davies dari ASPI, biaya yang harus dikeluarkan dari kantong pemerintah Australia untuk pembelian 12 kapal selam itu lebih dari AU$ 36 milyar. Meskipun Australia adalah negara maju, namun perekonomian mereka tetap tergantung pada kondisi global sebagai dampak dari kebijakan mengintegrasikan ekonominya ke dalam ekonomi global. Dengan kata lain, masih ada ketidakpastian hingga 2030 tentang kemampuan ekonomi Australia mendukung program akuisisi 12 kapal selam baru.
Kedua, aspek teknologi. Kebijakan pertahanan Australia menggariskan bahwa 12 kapal selam itu harus dibangun di galangan kapal dalam negeri. Kemampuan galangan kapal nasional Australia dalam membuat kapal selam tidak diragukan, meskipun masih jauh dibandingkan kemampuan galangan Jerman yang dimotori oleh TKMS (induk HDW). Tantangan terbesar bagi galangan kapal Australia untuk menyediakan 12 kapal selam baru adalah kemampuan desain dan pengembangan, sebab mengacu pada opsreq yang minta oleh RAN, ukuran kapal selam konvensional itu 30 persen lebih besar daripada kelas Collins.
Kapal selam kelas Collins tonasenya 3.300 ton, sehingga tonase kapal selam baru sekitar 4.290 ton. Dengan tonase yang demikian, dibutuhkan sejumlah teknologi yang mampu memenuhi opsreq RAN. Terkait dengan hal itu, mau tidak mau negeri di mana kaum Aborigin tertindas ini membutuhkan bantuan dari Amerika Serikat. Kemampuan Amerika Serikat dalam soal teknologi kapal selam tidak perlu diragukan lagi, hanya saja Sam pengetahuan Uwak soal pengembangan kapal selam diesel elektrik tidak sekaya Jerman.
Masih terkait dengan teknologi, jangan dilewatkan pula pengalaman RAN mengoperasikan kapal selam kelas Collins. Seperti diketahui, kapal selam ini merupakan pembesaran dimensi dari kapal selam rancangan Swedia. Pembesaran itu pula yang dituding sebagai penyebab mengapa Collins seringkali sakit dalam masa hidupnya di armada kapal selam Australia. Kasus Collins dapat dikaitkan langsung dengan ambisi RAN mengoperasikan kapal selam diesel elektrik yang jauh lebih besar daripada Collins.
Ketiga, sumber daya manusia. Dibandingkan dengan di Angkatan Laut Indonesia, arus take in dan take out personel di RAN jauh lebih tinggi. Untuk pensiun dini atau keluar dari dinas di Angkatan Laut Australia jauh lebih mudah daripada aturan serupa yang berlaku di kekuatan laut Indonesia. Pada sisi lain, minat warga Australia untuk menjadi anggota militer ---termasuk RAN--- jauh lebih rendah dibandingkan minat warga Indonesia.
Hingga sekarang, hanya dua dari enam kapal selam kelas Collins yang siap dioperasikan oleh Australia. Penyebabnya tak lain adalah kekurangan personel berkualifikasi kapal selam. Bercermin dari situ, bisa dihitung berapa kebutuhan personel minimal untuk mengoperasikan 12 kapal selam baru nantinya. Sementara ke depan diperkirakan minat warga Negeri Kangguru untuk mengabdi di Angkatan Lautnya tidak akan lebih baik dari kondisi saat ini.

Tidak ada komentar: