21 April 2010

Diplomasi 90.000 Ton

All hands,
Angkatan Laut merupakan salah satu instrumen diplomasi. Dalam menggelar diplomasi, Angkatan Laut mengandalkan pada eksistensi kapal perang. U.S. Navy sebagai Angkatan Laut dengan jangkauan global menggunakan kapal perang sebagai perangkat diplomasi, di antaranya adalah kapal induk. Itulah sebabnya di Angkatan Laut Broer Sam adalah istilah 90.000 ton diplomacy.
Istilah itu mengacu pada tonase kapal induk kelas Nimitz yang berkisar pada 90.000 ton. Berbicara tentang dampak diplomasi 90.000 ton, tentu sangat luar biasa. Sebab kapal induk itu selain dilengkapi dengan satu wing pesawat udara, ditambah pula dengan sejumlah kapal pengawal dengan sistem persenjataan yang tidak kalah mematikan.
Dalam konteks Indonesia, diplomasi Angkatan Laut sebaiknya mengandalkan pada apa? Yang utama perlu diperhatikan adalah jangan pernah mengandalkan pada kapal-kapal di bawah tonase 1.000 ton. Sebab meskipun kapal bertonase di bawah 1.000 ton dilengkapi dengan senjata yang combat proven, namun dampaknya tetap saja kecil. Sebab diplomasi Angkatan Laut adalah pameran bendera, artinya pamer kekuatan. Kalau kita berdiplomasi mengandalkan kapal-kapal di bawah 1.000 ton, hal itu sama saja dengan menggarami air laut.
Tonase kapal kombatan Indonesia berkisar antara 1.700-2.000 ton dan itulah capital ship yang tersedia. Sebaiknya kapal-kapal itu yang digunakan, dengan catatan sistem senjatanya harus dapat diandalkan. Kalau sistem senjatanya diragukan, sekali lagi hal itu merupakan pekerjaan menggarami laut.
Diplomasi Angkatan Laut ditujukan agar pihak yang dituju mempunyai persepsi takut dan segan kepada kekuatan yang kita pamerkan. Pemahaman ini harus dicamkan betul, sebab diplomasi Angkatan Laut adalah pamer kekuatan. Kalau yang dipamerkan kapal-kapal kecil, itu menandakan bahwa kapal-kapal kecil itulah yang menjadi andalan suatu Angkatan Laut.

2 komentar:

weliyadi mengatakan...

untuk menjadi sebuah negara yg disegani, indonesia harus memiliki armada perang yg kuat baik kuantitas & kualitasnya. salut dengan artikel ini...salam kenal

Anonim mengatakan...

Dulu ada armada vii as yg mau lwt selat sunda tp tanpa permisi, pas kehadirannya sdh diketahui oleh gugus tempur selam di wilayah itu sekitar selat sunda...lalu diberi peringatan radio...tetap sombong acuh saja...lalu stlh ada perintah dri pejabat berwenang yg tertinggi dlm hal ini..dg perintah...

"lakukanlah segala sesuatu yg menurut kalian adlh benar demi menjaga kehormatan nkri, semuanya terserah kalian!"...lalu stlh beberapa saat kontak tdk ditanggapi...ks ri melakukan jibaku (dg maksud utk medekati mau mengawal biar tdk macam2 tetapi ternyata terjadi kepanikan di kapal induk armada vii as)..pergerakan ks yg semakin medekat kapal induk dan mematikan sinyal radio...sangat menggentarkan mereka..krn pikirnya kapal induk akan ditubrukan secara frontal oleh ks ri tsb...pd detik2 kritis kapal induk armada vii & rombongan pengawalan berbalik arah putar haluan tdk jd lwt selat sunda tp ambil arah ke australia...akhirnya semua crew ks ri berteriak hore kita menang..jalesveveva jaya mahe...jayalah negeriku indonesia dilaut!!!