19 Agustus 2009

Realisasi Angkatan Laut Sebagai Simbol Kekuatan Bangsa

All hands,
Bagaimana realisasi Angkatan Laut sebagai kekuatan bangsa? Caranya mudah dan gampang sepanjang ada kemauan politik. Yaitu melengkapi Angkatan Laut dengan sistem senjata yang modern dan diawaki oleh sumber daya manusia yang andal. Apa arti melengkapi Angkatan Laut dengan sistem senjata yang modern?
Pertanyaan itu harus diawali terlebih dahulu dari perspektif geopolitik. Indonesia sebagai bangsa hidup di wilayah yang strategis dalam percaturan geopolitik kawasan. Siapapun aktor di kawasan pasti membutuhkan Indonesia. Geopolitik Indonesia menandaskan bahwa bangsa ini dua pertiga luas wilayahnya merupakan perairan dan menjadi perlintasan kepentingan bangsa-bangsa lain.
Dari situ tergambar bahwa ada pertemuan kepentingan nasional Indonesia dengan kepentingan nasional bangsa-bangsa lain. Pertemuan kepentingan itu bisa berupa kerjasama, dapat pula berwujud konflik. Untuk mengamankan kepentingan nasional Indonesia, dibutuhkan Angkatan Laut yang modern dan diawaki oleh sumber daya manusia yang andal.
Susunan tempur Angkatan Laut harus ditata sedemikian rupa dengan pendekatan gun and butter, bukan pendekatan gun or butter. Sebab Angkatan Laut adalah simbol kekuatan dan sekaligus juga pengaruh bangsa Indonesia. Susunan tempur yang seperti apa?
Yakni susunan tempur yang mana kapal kombatannya dilengkapi dengan sistem senjata modern. Dan kapal kombatan itu, baik korvet maupun fregat harus menjadi kekuatan utama sekaligus simbol Angkatan Laut. Jangan sampai simbol kekuatan Angkatan Laut negeri ini justru kapal-kapal patroli seperti FPB atau PC. Kehadiran kapal patroli tetap dibutuhkan oleh Angkatan Laut, namun tidak dapat dijadikan sebagai simbol kekuatan.
Alasannya sederhana, yaitu sangat tidak pantas bila negeri dengan perairan yang Samudera India sampai Samudera Pasifik kekuatan utama Angkatan Lautnya adalah kapal patroli. Beda halnya kalau Indonesia hanya sebuah negeri yang luasnya hanya seluas wilayah Jakarta.
Kapal kombatan sebagai simbol kekuatan Angkatan Laut tidak mesti jumlahnya harus lebih banyak daripada kapal patroli. Yang diutamakan adalah kualitas kapal kombatan pada satu sisi dan pada saat kapan dan di mana kapal kombatan harus dieksploitasi kehadirannya demi mengamankan kepentingan nasional. Soal “saat kapan dan di mana” merupakan hal krusial dalam mengeksploitasi kekuatan Angkatan Laut sebagai simbol bangsa.
Sebagai contoh, patroli di Laut Natuna dan sekitar Laut Cina Selatan sudah sepantasnya menggunakan kapal kombatan. Selain kondisi lautnya menuntut demikian, di sana juga banyak berlayar kapal perang asing. Begitu pula misalnya di Samudera India, perbatasan Indonesia-Singapura dan beberapa perairan lain. Khusus perbatasan Indonesia-Singapura, kehadiran kapal kombatan tetapi diperlukan guna mem-back-up kapal-kapal patroli.
Apabila pemerintah mempunyai keinginan politik merealisasikan Angkatan Laut sebagai simbol kekuatan bangsa, pekerjaan rumah jangka pendek adalah memodernisasi kekuatan kapal kombatan, baik kapal atas air maupun kapal selam. Hal ini bersifat mendesak agar jangan sampai simbol kekuatan Angkatan Laut negeri ini justru terletak pada kapal patroli.

Tidak ada komentar: